ArticleBook ReviewEssayResearch

Hermeneutika Humanistik-Negosiatif Khaled M. Abou El Fadl: Dekonsktruksi Konsep Otoritarianisme Dalam Studi Hadis Kontemporer

Identitas Buku          : Atas Nama Tuhan: Dari Fikih Otoriter ke Fikih Otoritatif

No. ISBN                    : 979-3335-51-3

Penulis                        : Khaled M. Abou El Fadl

Penerbit                      : PT. Serambi Ilmu Semesta

Cetakan                      : 1

Jumlah Halaman       : 617

 

PENDAHULUAN

Persoalan mendasar dalam diskursus keislaman yang masih menjadi polemik hingga saat ini adalah tentang interpretasi yang tidak kunjung mendatangkan kemaslahatan. Interpretasi atau yang biasa dikenal dengan terma tafsir dalam khazanah metodologi hukum Islam (al-Qur’an dan Hadis) seringkali melahirkan masalah-masalah baru yang justru tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki teks dan konteks. Hal tersebut ditandai dengan maraknya interpretasi yang cenderung subjektif-pejoratif dan mengedepankan fanatisme kelompok. Sehingga dampak yang ditimbulkan adalah sikap otoriter dan bahkan menafikan bentuk interpretasi yang lain.[1]

Jika dilacak secara historis, persoalan-persoalan terkait interpretasi sudah lama terjadi dan telah dimulai sejak masa awal perkembangan Islam, terlebih lagi interpretasi terhadap teks-teks keagamaan yang berdimensi teologis dan bermuatan hukum. Seperti rekaman jejak sejarah yang paling monumental tentang peristiwa arbitrase (tahkim) yang dilakukan Ali bin Thalib (memerintah tahun 35-40 H/656-661 M) kepada keponakan ‘Utsman, Mu’awiyah (w. 60 H/680 M) pada perang Shiffin. Peristiwa tersebut kemudian melahirkan dua kelompok besar dalam memori sejarah Islam; khawarij dan syi’ah.[2]

Khawarij adalah kelompok pembelot yang notabennya tidak terima dengan keputusan Ali tentang upaya perdamaian yang telah dilakukan sebagai hasil dari interpretasi Ali terhadap kondisi yang dapat mengakhiri pertikaian. Mereka menentang Ali dan keluar dari barisannya dengan dasar klaim otoriter bahwa Ali tidak mampu menyelesaikan konflik dengan hukum kedaulatan Allah. Kelompok khawarij ini dengan tegas menyatakan separatisasi ideologi dengan Ali hanya karena Ali mempunyai interpretasi yang berbeda dengan mereka. Jargon yang menjadi polemik adalah tentang “kedaulatan hanyalah milik Tuhan” (al-hakimiyyah lillah). Mereka berargumen bahwa dengan menerima proses arbitrasi, Ali diklaim telah berkhianat pada tuhan dan melanggar perintah Tuhan. Ali dianggap sebagai pemimpin yang telah menyimpang dari ajaran al-Qur’an karena telah melimpahkan kedaulatan hukum yang secara otoritatif berada di tangan Tuhan kepada kuasa hukum yang berada di tangan manusia.[3] Sedangkan sy’iah adalah kelompok yang tetap setia mendukung keputusan Ali. Kelompok yang kemudian sampai sekarang menjadi pelopor atas gerakan fanatisme terhadap Ali dan sahabat-sahabatnya (ahlul bait). Bahka khalifah  keempat inidipandang sebagai orang yang suci, wali Allah, dan mirip dengan peran Muhammad sebagai Nabi dan Rasul Allah.[4]

Kelompok-kelompok dalam bingkai sejarah itulah yang dalam diskursus keislaman selanjutnya dianggap sebagai pusat dari berbagai persoalan interpretasi terhadap konsep-konsep teologis yang menjalar dalam tubuh umat Islam dan kemudian berimplikasi pada munculnya gerakan agama baru (the new religion movements)[5] dengan paham-paham tertentu seperti kelompok fundamentalisme, liberalisme, modernisme dan institusi-institusi kegamaan dengan fatwa bahkan produk hukum yang mengikat seperti, Permanent Council for Scientific Research ann Legal Opinion (CRLO) di Arab Saudi, Majlis Tarjih Muhammadiyah, Bahsul Masail Nahdlotul Ulama, Dewan Misbah, dan Komisi Fatwa MUI di Indonesia.

Beragam kelompok tersebut dalam praktik pemahaman terhadap hukum Islam seringkali melakukan interpretasi yang ekslusif dengan saling melontarkan klaim kebenaran. Satu sama lain saling menganggap bahwa pemahamannya terhadap teks suci adalah yang paling absah dan tidak jarang menafikan bahkan menolak interpretasi hukum dari kelompok yang lain. Mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang terjebak dalam tindakan yang disebut dengan otoritarianisme dalam sebuah interpretasi atau penafsiran. Kelompok atau penganut keagamaan tersebut cenderung mengambil kekuasaan pengarang –dalam hal ini kekuasan Tuhan– untuk membenarkan tindakan sewenang-wenang yang absolut (despotism). Fenomena klaim kebenaran absolut inilah yang kemudian menjadi kegelisahan dan keresahan banyak kalangan, terlebih lagi ketika mereka dengan sangat arogan menyatakan bahwa mereka adalah pemegang otoritas hukum Tuhan. Tindakan interpretasi terhadap teks yang cenderung otoriter juga menimbulkan banyak reaksi disruptif yang dapat berpotensi merusak pondasi-pondasi keagamaan itu sendiri.[6]

Hal yang sama juga menjadi kegelisahan tersendiri bagi Khaled M. Abou El Fadl, cendekiawan muslim kontemporer terhadap komunitas ahli hukum CRLO di Arab Saudi yang mengeluarkan fatwa-fatwa keagamaan dengan sikap yang cenderung eksklusif dan finalistik. Terutama dalam mengambil keputusan hukum tentang hadis-hadis misoginis yang seakan akan terlalu mendeskriditkan perempuan dan tidak obyektif dalam memandang status keadilan gender. Ini yang kemudian melatarbelakangi pemikiran Khaled tentang teori hermeneutika negosiatif yang dinilai memiliki konsep-konsep yang relevan dengan pola interpretasi terhadap teks-teks keagamaan.

Secara umum, Khaled menegaskan bahwa interpretasi bukanlah hal yang selalu dapat dipandang negatif, karena pada prinsipnya interpretasi adalah upaya yang sangat dibutuhkan dalam melakukan studi terhadap teks, terlebih dalam konteks untuk mengupas, mengurai, dan bahkan mengkritisi muatan materi secara filsofis. Lebih jauh lagi, interpretasi dalam era kontemporer dijadikan perangkat metodologi atau landasan epistemologis untuk mengungkap struktur teks dan muatan makna secara mendalam. Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, interpretasi kemudian diformulasikan dalam bentuk disiplin ilmu yang disebut dengan hermeneutika (teory of interpretation).

Lebih jauh lagi atas dasar ini, Khaled untuk merespon penyakit despotisme terhadap penafsiran hukum Islam khsusunya hadis-hadis misoginis tersebut, ia menawarkan konsep hermeneutika humanistic-negosiatif sebagai landasan epistemologis dalam melakukan penelaahan dan interpretasi solutif terhadap teks-teks keagamaan agar tidak terjebak dalam sikap otoritarianisme yang subjektif dan pejoratif. Hermenutika yang cenderung berbeda dengan yang lainnya dan memiliki kaidah-kaidah tersendiri. Oleh karena itu, dalam makalah ini, penulis akan mencoba menelaah dan mengelaborasi tentang tindakan otoritarianisme dan konsep otoritas yang dimakud Khaled serta konsep hermeneutika yang dirumuskannya dalam buku Speaking in God’s Name: Islamic Law, Authority, Women yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul Atas Nama Tuhan: Dari Fikih Otoriter ke Fikih Otoritatif. Dalam upaya melengkapi uraian dalam diskursus ini, penulis juga akan mengetengahkan contoh aplikatif dalam perumusan struktur interpretasi dan penentuan makna teks dari persoalan sumber hukum Islam yang diambil dari hadis.

PEMBAHASAN

  1. Biografi dan Karir Intelektual Abou El Fadl

Khaled adalah cendekiawan muslim kontemporer yang lahir di Kuwait, Timur Tengah pada tahun 1963.[7] Ia dibesarkan di tengah-tengah keluarga terpandang, berkebangsaan Mesir yang berpendidikan dan memiliki latar belakang keagamaan yang cukup kuat. Khaled yang mempunyai nama panjang Khaled Medhat Abou El Fadl memulai pendidikan tingkat dasar di Kuwait dan melajutkan ke jenjang pendidikan menengah di Mesir. Sejak kecil, Khaled telah diajarkan tentang ilmu-ilmu keislaman; al-Qur’an, hadist, Bahasa Arab, tafsir, tasawuf, akhlak, aqidah, fikih, dan lain-lain.[8] Karena kecedersannya yang luar biasa, pada usia 12 tahun ia telah berhasil menghafalkan al-Qur’an dengan sempurna.

Ayahnya adalah seorang pengacara terkemuka yang sangat menginginkan Khaled menjadi seorang ahli hukum Islam suatu saat nanti. Oleh sebab itu, dalam kesehariannya, Khaled seringkali diperkenalkan dengan persoalan-persoalan hukum dan diuji dengan pertanyaan-pertanyaan seputar hukum. Dalam karir perjalanan akademiknya, Khaled tak jarang belajar pada banyak ahli ilmu agama Islam, terutama Fikih. Oleh karena itu, ketika tiba liburan musim panas Khaled kerapkali menghadiri kelas-kelas al-Qur’an dan ilmu-ilmu syariah di masjid al-Azhar, Kairo, khususnya kelas yang dipimpin oleh seorang revivalis Islam moderat, Syaikh Muhammad al-Ghazali (w.1995) yang ia kagumi.[9] Khaled dikenal sebagai anak yang tekun belajar, tidak hanya konsen di ilmu-ilmu syari’ah, ia juga mempelajari semua koleksi buku ayahnya yang berprofesi menjadi pengacara itu. Sampai-sampai dalam satu literature disebutkan bahwa ia pernah menjadi pengikut kelompok paham puritan Wahabi semasa di Mesir.

Setelah merampungkan pendidikannya di Mesir, Khaled melanjutkan studinya di Yale University, New Haven, Connecticut, Amerika Serikat pada tahun 1982. Di masa perkuliahan, ia sangat menyukai ilmu hukum dan akhirnya mampu mendalami ilmu hukum dan menyelesaikan Bachelor of Art-nya selama empat tahun dan lulus dengan predikat cum laude pada tahun 1986. Setelah mengembara ilmu di Yale University, ia kemudian melanjutkan studi masternya di bidang Hukum di sebuah kampus swasta bernama University of Pennyslavia, Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat dan lulus tahun 1989. Karena kegigihan dan prestasi belajarnya, ia diterima di Pengadilan Tinggi (Suppreme Court Justice) wilayah Arizona, sebagai pengaca hukum dagang dan hukum imigrasi. Di tahun inilah, ia mendapatkan kewarganegaraan Amerika, sekaligus dipercaya sebagai staf pengajar di University of Princeton. Atas anugerah Tuhan, pada tahun 1999, ia mampu menyelesaikan studi doktoralnya dan memperoleh gelar Ph.D di bidang hukum Islam. Saat ini ia menjabat sebagai Professor hukum Islam di UCLA (Scholl of Law, University of California, Los Angeles).[10]

Selama kuliah hingga professor ia banyak mempelajari karya-karya para filosof bahasa terkemuka seperti Charles Sanders Peirce (1914), Heidegger (1976), Roland Bartes (1980), Gadamer (2002), Umberto Eco (2007), dan R.B Friedman (2012). Dari tokoh-tokoh inilah kemudian Khaled banyak belajar tentang pemikiran linguistik, terutama hermenutika. Dan tokoh-tokoh ini pula lah yang secara tidak langsung mempengaruhi pemikiran hermeneutiknya. Selain menggeluti pemikiran-pemikiran linguistik, tentunya Khaled sebelumnya telah mendalami karya-karya pemikir Islam baik klasik maupun kontemporer seperti Ibn Qayyim al-Jauzi (1350 M) dan Fazlur Rahman (1988).[11]

Dari pengembaraan intelektual di bidang hukum Islam yang sangat mendalam, ia kemudian dijuluki sebagai an enlightened paragon of liberal Islam. Tidak sebagai seseorang pemikir dan cendekiawan muslim, ia juga aktivis era kontemporer yang tegas dan militan dalam mendobrak ketidakadilan sistem hukum dan mendekonstruksi nilai—nilai yang dinilai tidak relevan dengan perkembangan zaman modern. Tidak hanya itu, ia juga intens menyuarakan inovasi-inovasi baru di bidang urusan Hak Asasi Manusia serta keamanan nasional dan internasional.

 

  1. Karya-Karya Abou El Fadl

Sebagai seorang pemikir dan cendekiawan muslim era kontemporer, Khaled termasuk intelektual yang produktif dalam bidang hukum Islam. Ia juga telah menulis berbagai macam karya ilmiah monumental. Di antara karya-karya yang berbentuk buku adalah The Authoritative and Authoritarian in Islamic Discourses (Dar Taiba, 1997), Rebellion and Violence in Islamic Law (Cambridge University Press, 2001), Conference of the Books: The Search for Beauty in Islam (University Press of America/Rowman and Littlefield, 2001), Speaking in God’s Name: Islamic Law, Authority and Women (Oneworld Press, Oxford, 2001), And God Knows the Soldiers: The Authoritative and Authoritarian in Islamic Discourses (UPA/Rowman and Littlefield, 2001), The Place of Tolerance in Islam (Beacon Press, 2002), Islam and the Challenge of Democracy (Princeton University Press, 2004), The Great Theft: Wrestling Islam from Extremist (Harper san Francisco, 2005), The Search for Beauty is Islam: Conference of the Books (Rowman & Littlefield Publisher, Inc, 2006) dan Reasoning with God: Reclaiming Shari’ah in The Modern Age (Rowman & Littlefield Publisher, Inc, October 2014).[12]

Dari sekian banyak karya Khaled baik buku maupun artikel dalam jurnal ilmiah yang berbahasa Inggris, beberapa karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, antara lain: magnum opusnya berjudul Speaking in God’s Name: Islamic Law, Authority and Women terbitan Oneworld Publication tahun 2003 yang diterjemahkan “Atas Nama Tuhan: Dari Fikih Otoriter ke Fikih Otoritatif” dan diterbitkan Serambi Yogyakarta (2004), Melawan Tentara Tuhan yang diterbitkan oleh Serambi Yogyakarta, Musyawarah Buku yang diterbitkan oleh Serambi Yogyakarta, Cita dan Fakta Toleransi Islam; Puritanisme versus Pluralisme yang diterbitkan oleh ‘Arsy-Mizan Bandung, Islam dan Tantangan Demokrasi yang diterbitkan oleh Ufuk Jakarta.[13] Karya-karya tersebut begitu banyak diminati oleh para akademisi, karena di dalam tulisan dan pemikirannya, ia sangat piawai menguraikan nilai-nilai klasik dalam konteks modern. Selian itu, apa yang telah beliau persembahkan untuk mewujudkan Islam yang santun banyak menginsipirasi para intelektual muslim, khususnya di bidang hukum Islam untuk dapat memposisikan diri sebagai seorang agamawan yang religius dan sekaligus agamawan yang kritis terhadap problematika kehidupan keagamaan yang sedang terjadi di era kontemporer ini.

Dalam sebuah referensi disebutkan bahwa Khaled pada awalnya adalah seorang penganut paham Wahabi yang sangat ekstrem, meski demikian dalam perjalananya ia berubah secara drastis menjadi pengkritik paham bahkan menolak paham ekslusif tersebut. Dari sebab inilah secara psikologis-sosiologis Khaled yang pernah menjadi pelaku dan penebar otoritarianisme, ia berhasil membuat sintesa analisis-kritis terhadap fenomena maraknya tindakan-tindakan otoriter non-argumentatif tafsir keagamaan dan menjadi salah satu inspirasi terbesar dalam karya-karyanya yang sangat kritis, salah satunya dalam karya monumentalnya, yaitu Atas Nama Tuhan: Dari Fikih Otoriter ke Fikih Otoritatif yang menjadi objek kajian utama dalam penelitian ini.[14] Dalam suatu rujukan juga dinyatakan bahwa kemunculan karya-karyanya dianggap virus berbahaya oleh para elit agama Timur Tengah yang berpotensi untuk merusak tatanan Islam. Tidak heran juga kemudian beberapa karyanya sempat dilarang beredar di kawasan Saudi Arabia dan Mesir, negara asalnya. Padahal hal tersebut dilakukan oleh Khaled hanya sebagai reaksi keprihatinan terhadap tradisi keilmuan Islam yang secara gradual cenderung ekslusif, intoleran, dan menjauh dari dimensi humanistik.[15]

 

  1. Hadis: Problematika Epistemologis Tentang Preseden Otoritarianisme dan Formulasi Otoritas Eksegesis

Sebagaimana telah dipaparkan secara singkat bahwa apa yang menjadi problem dalam kerangka mekanisme penentuan makna (baca: penetapan hukum Islam) khususnya hadis adalah adanya konstruksi otoritarianisme yang sangat kuat sepanjang sejarah khazanah keislaman. Bagi Khaled, otoritarianisme merupakan gerakan alam bawah sadar yang berpotensi untuk menciderai nilai-nilai universal yang ada dalam hadis. Hal yang selama ini terjadi dalam dinamika penafsiran terhadap teks-teks suci keagamaan dianggap sesuatu yang paradoksal; belum mampu mencapai titik sinergitas yang membawa kemaslahatan umat manusia. Oleh sebab itu, menurut Khaled pembahasan dan kritisisme terhadap upaya otoritarianisme dalam studi hadis menjadi sangat penting untuk dilakukan guna menghindari asumsi-asumsi pejoratif berbasis iman yang dapat merusak integritas teks itu sendiri.

Secara definistif-praktis, Khaled menjelaskan bahwa otoritarianisme merupakan tindakan-tindakan yang sama sekali tidak berlandaskan pada pra-syarat pengendalian diri dan melibatkan klaim palsu yang dampaknya adalah penyalahgunaan kehendak Tuhan.[16] Otoritarianisme seringkali dikonstruksi dalam rangka untuk menafikan realitas ontologis Tuhan dan mengambil alih kehendak Tuhan oleh wakil Tuhan sehingga secara efektif wakil tersebut kemudian dapat mengacu pada dirinya sendiri. Dalam fenomena pergerakan seseorang yang otoriter, perbedaan antara wakil dan Tuannya menjadi tidak jelas dan kabur. Pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan oleh wakil seolah-olah akan mengalami peleburan dengan perintah-perintah Tuannya, karena seorang wakil telah mencangkokkan penetapannya ke dalam perintah Tuannya. Ketika Tuannya sebagai pemegang semua perintah atau petunjuk, baik tekstual maupun kontekstual, dalam proses yang otoriter, demi memenuhi kepentingan praktisnya, seorang wakil akan dengan sadar berusaha untuk mendistorsi petunjuk-petunjuk otonomi teks dan menjadikan isyarat sepenuhnya bergantung pada penetapannya sendiri. Dinamika sosok yang otoriter inilah kemudian memainkan peran yang siginifkan dalam menolak integritas petunjuk-petunjuk teks dengan menutup kemungkinan petunjuk yang sebenarnya dan menghalangi perkembangan inovasi makna komunitas interpretasi.[17]

Jika pemegang otoritas berkecenderungan bersikap otoriter dalam setiap interpretasinya, maka yang didapat hanyalah sebuah keputusan sepihak yang mengikat, kecuali ada upaya sadar dan aktif untuk membendung kecenderungan tersebut dari wakil yang melakukan interpretasi dan wakil yang menerima interpretasi. Ketika pembaca (interpreter) sedang berhadapan dengan teks dan menarik sebuah hukum dari teks, maka yang akan terjadi adalah teks menyatu dengan pembaca. Pembaca seolah-olah menjadi raja yang tidak terkalahkan. Penetapan-penetapan yang dilakukan terhadap menjadi sangat eksklusif dan final. Dalam proses ini, teks begitu tunduk kepada pembaca dan secara efektif pembaca menjadi pengganti teks. Jika pembaca telah memilih sebuah metode pembacaan tertentu dan di saat itu pula ia mengklaim bahwa tidak ada lagi pembacaan yang relevan dan valid, maka teks akan larut ke dalam karakter pembaca. Parahnya, jika pembaca melampaui dan menyelewengkan teks, maka yang terjadi adalah sebuah tindakan yang tidak efektif, arogan, dan otoriter.[18]

Di samping konstruksi otoritarianisme, Khaled dalam rangka memberikan uraian yang komprehensif tentang interpretasi atas penetapan makna, ia berupaya menjelaskan sebuah konsep tentang otoritas dalam penafsiran. Menurutnya otoritas dalam diskursus hukum Islam adalah sesuatu yang sangat krusial dan harus dapat dipahami secara tepat agar terhindar dari sebuah kesalahpahaman dan penyelewengan dalam pengambilan keputusan. Dalam batas ini, ia memperjelas bahwa harus ada pemahaman yang mendalam terkait dengan otoritas (wewenang) dan keberwenangan. Sebagai pendahuluan, ia menguraikan bahwa otoritas mempunyai dua terma yang sangat jauh berbeda artinya, yaitu otoritas koersif dan otoritas persuasif. Otoritas koersif adalah sebuah kekuasaan yang dikonstruksi dengan menggunakan perangkat-perangkat hukum formal yang ada dalam sebuah instansi, ia bersifat mengikat dan harus ditaati. Biasanya otoritas koersif dapat berjalan dalam dimensi struktural. Khaled mengatakan:

“Otoritas Koersif adalah kemampuan yang mengarahkan perilaku orang lain dengan cara membujuk, mengambil keuntungan, mengancam, atau menghukum, sehingga orang yang berakal sehat berkesimpulan bahwa untuk tujuan praktis mereka harus menaatinya. Tidak ada pilihan yang lain”.[19]

Sedangkan otoritas persuasif adalah kekuasaan yang bertolak dari adanya bukti-bukti rasional tentang kredibilitas pemegang kekuasaan. Dalam konteks ini, otoritas persuasif dapat berjalan dengan asas kepercayaan. Khaled mengatakan:

“Otoritas Persuasif melibatkan kekuasaan yang bersifat normatif. Ia merupakan kemampuan untuk mengarahkan tindakan atau perilaku seseorang atas dasar kepercayaan”.[20]

Mengutip terminologi R.B Friedman, ia menyebut dalam dimensi otoritas, terdapat apa yang disebut dengan pemangku otoritas (being in authority) dan ada pemegang otoritas (being an authority). Istilah “memangku otoritas” dapat didefiniskan sebagai usaha seseorang atau kelompok dalam rangka menduduki jabatan resmi atau struktural yang kemudian memberinya kekuasaan untuk memberikan petunjuk atau perintah. Biasanya pemangku otoritas melakukan aksinya dengan menunjukkan simbol atau label otoritas tertentu yang sudah diabsahkan berdasarkan hukum tertentu. Dalam hal ini, yang menjadi karakter terkuat adalah sebuah identitas resmi struktural yang digunakan sebagai alat legitimasi untuk memberi perintah, mengatur, menghukum, dan seterusnya. Akibatnya, dari aksi pemangku otoritas ini akan muncul reaksi ketaatan dan ketundukan yang bersifat formal karena adanya sistem yang mengikat atau dalam istilah yang lain, tidak dikenal adanya “ketundukan atas keputusan pribadi”. Konsekuensi yang lain, seseorang bisa saja tidak setuju dengan pendapat seorang pemangku otoritas, namun secara normatif, ia tidak memiliki pilihan yang lain kecuali menaatinya. Kesadaran pribadinya tidak terpenngaruh oleh ketundukannya kepada pemangku otoritas. Singkatnya, seseorang bisa saja berbeda pendapat dengan pemangku otoritas, namun karena adanya pengakuan terhadap jabatan formal, maka orang tersebut harus tetap menaatinya. Misalnya, dalam sebuah tataran negara terdapat kelompok pemangku otoritas – dalam hal ini presiden dan anggota badan legislatif – yang mempunyai hak otoritatif untuk memutuskan dan menetapkan kebijakan-kebijakan formal tertentu secara menyeluruh kepada rakyat. Secara struktural, meski rakyat tidak memiliki pendapat yang sama dengan kebijakan tersebut, rakyat tidak bisa menolak dan membangkang dari keputusan tersebut, rakyat tetap harus mematuhi kebijakan-kebijakan tersebut. Yang menjadi catatan adalah rakyat di sini hanya tunduk pada sistem kekuasaan presiden, namun secara personal, rakyat bisa menentang kebijakan yang dikeluarkan oleh presiden.[21]

Sedangkan istilah “memegang otoritas” adalah ketaatan yang melibatkan paradigma yang berbeda. Seseorang dapat berpotensi meninggalkan pendapat pribadinya karena tunduk pada pemegang otoritas yang dipandang memliki ilmu pengetahuan, kompetensi, kepiawaian, kecerdesan, dan pemahaman yang lebih baik. Karakteristik yang paling jelas adalah bahwa dalam konsep “memegang otoritas” ini terdapat unsur pengetahuan khusus yang tidak selalu dimiliki oleh orang lain. Menurut Friedman pengetahuan partikular itulah yang menjadi landasan dasar ketundukan seorang yang awam terhadap perintah-perintah pemegang otoritas. Bukan lagi ketundukan yang bersifat formalistik, melainkan ketundukan individual yang didasarkan pada konstruksi rasionalitas dan daya penalaran yang tajam. Dalam pengertian yang lain, walaupun tidak didukung oleh sistem legal jabatan, seseorang atau kelompok yang dinilai memiliki kapasitas pengetahuan yang jauh lebih tinggi akan diakui dan ditaati sebagai pemegang otoritas yang berhak menentukan keputusan.[22] Seperti contoh, dalam sebuah organisasi keagamaan terdapat kelompok independen –dalam hal ini MUI– yang memiliki hak otoritatif secara intelektual untuk mengeluarkan fatwa-fatwa keagamaan bagi masyarakat umum. Keputusan-keputusan tersebut dinilai oleh kalangan umum sebagai produk pemikiran yang telah melewati fase pembacaan, pemahaman, dan pemaknaan secara mendalam. Sehingga para kalangan umum tersebut dengan keterbatasan pengetahuan tentang agama mengakui kredibilitas kelompok partikular agama dan dengan percaya menaati kebenaan aturan-aturan hukum yang telah diputuskan berdasarkan pengetahuan yang holistik. Dalam kasus ini, ada ketundukan yang bersifat personalistik-intelektual yang bersemayam dalam diri masyarakat umum. Dalam kerangka ini, Khaled menyebutnya sebagai unsur perwakilan yang mempunyai peran dalam proses penetapan makna (pengambilan hukum).

  1. Konsep Dasar Hermeneutika Humanistik-Negosiatif Abou El Fadl Dalam Penentuan Makna

Setelah memahami terma otoritarianisme dan konsep otoritas dalam diskursus hadis, pembahasan selanjutnya yang menjadi sangat penting dari penelitian ini adalah tentang konsep hermeneutika humanistik-negosiatif yang dirumuskan atas dasar kegelisahan epistomologis hukum Islam yang mengalami stagnasi dan kejumudan.  Pembahasan dalam sub-bab ini adalah bagian dari poros pemikiran yang dikemukakan oleh Khaled Abou El Fadl tentang sebuah upaya dekonstruksi makna terhadap maraknya praktik otoritarianisme dalam penetapan makna sumber otoritas tertinggi umat Islam; al-Qur’an dan hadis. Pemikiran tentang hermeneutika ini lahir sebagai counter-part terhadap tindakan-tindakan despotisme dan otoritarianisme yang telah merajalela di dunia keilmuan Islam, khususnya dalam penetapan kesimpulan hukum (istimbath al-hukm)

Pada prinsipnya hermenutika humanistik-negosiatif terdiri dari dua tiga terma yang memiliki dasar filosofis yang berbeda-beda. Hermenutika adalah konsep metodologis yang dilakukan dengan mekanisme interpretasi secara mendalam dan mengakar. Adapun humanistik-negosiatif adalah sifat yang menjadi karakter dari hermenutika Khaled. Penulis mengambil istilah humanistik karena berpijak pada sifatnya yang mengedepankan aspek-aspek sosiologis dan antropologis manusia dan istilah negosiatif berlandaskan pada asas pencarian makna yang dilakukan dengan mensyaratkan adanya interaksi antara pengarang (author), teks (text), dan pembaca (reader).

Dalam diskursus ilmu pengetahuan, hermeneutika berasal dari bahasa Yunani “hermenun” yang memiliki asosiasi konotatif dengan dewa Hermes dalam mitologi Yunani yang berperan untuk menyempaikan dan menerjemahkan pesan-pesan Tuhan kepada manusia. Secara etimologi, istilah hermeneutika melibatkan tiga unsur pengertian mendasar yaitu: to say (mengungkapkan), to explain (menjelaskan), to translate (menerjemahkan).[23] Palmer menyatakan bahwa istilah hermeneutika sejak kelahirannya telah digunakan dalam ruang ilmu interpretasi, khususnya dalam struktur penafsiran tekstual.[24] Dari sinilah kemudian istilah hermenutika banyak berkembang di dunia Barat sebagai metode atau pendekatan dalam memahami ilmu secara kritis dan secara gradual juga digunakan oleh cendekiawan muslim untuk membaca dan menginterpretasi sumber otoritas keagamaan.[25]

Dalam mitologi Yunani, istilah hermeneutika juga sudah diterapkan ketika dewa Zeus dan Maia yang bernama Hermes dipercaya sebagai mediator untuk menjelaskan pesan-pesan para dewa di langit untuk umat manusia.[26] Mediasi dan pesan-pesan tersebut agar mudah dipahami ini termuat dalam makna dasar hermeneuein yang berfungsi untuk 1) mengungkapkan kata-kata (to express), 2) menjelaskan (to explain), dan 3) menerjemahkan (to translate),[27] sebagaimana penjelasan sebelumnya.

Hermeneutika telah hadir sebagai salah satu metode interpretasi yang dipelopori oleh Hasan Hanafi (lahir 1935 M), tatkala ia menyelesaikan desertasi yang berjudul les methodes d’exe’g’ese sur la science des fondements de la comprehension ‘ilm ushul al fiqh. Menurut Nasaruddin Umar al-Jabiri, pada zaman pasca Nabi dan sahabat juga telah ada penelitian terhadap sumber hukum yang menggunakan metode hermeneutika, salah satunya pembacaan dan analisis teks hukum yang dilakukan oleh al-Shafi’I (767-820 M). Menurutnya, hermeneutika atau ta’wil dalam khazanah Islam adalah undang-undang untuk menafsirkan wacana yang banyak digunakan dalam fiqh dan ushul al-fiqh.[28]

Adapaun hermeneutika yang dirumuskan Khaled cenderung memiliki karakteristik yang lebih modern daripada apa yang ada dalam metodologi ilmu tafsir dan sekaligus berbeda dengan konsep hermeneutika yang lain. Sebagai cendekiawan muslim yang kredibel dalam ulum al-Qur’an, ia tetap mempunyai prinsip bahwa epistemologi ilmu tafsir klasik adalah asas pokok yang tidak dapat dinafikan ketika akan menguraikan makna-makna teks baik dalam studi tafsir ataupun ushul al-fiqh,  seperti kaidah asbab an-nuzul, asbab al-wurud, khas dan ‘am, qathi dan dzanni, dan seterusnya. Hanya saja ia meyakini bahwa kaidah-kaidah tersebut berlaku untuk mengungkap makna yang terkadung pada era tradisional, makna pada waktu al-Qur’an dan al-Hadist diturunkan. Sehinnga untuk konteks modern, metodologi tersebut kurang menampakkan relevansinya dengan kebutuhan zaman. Terma tafsir menurut Khaled lebih berkonotasi pada upaya untuk mengungkap makna pengarag, demikian berbeda dengan interpretasi yang tugas utamanya adalah untuk menggali dampak makna dan kedudukan penting dari makna asal teks. Dalam pengertian yang lain, studi hukum tidak berkonsentrasi pada pengungkapan makna asal teks, melainkan lebih pada upaya merespon realitas sosial-kultur yang meliputi teks, upaya untuk mengontekstualisasikan makna dari sebuah teks. Oleh sebab itu, maka diperlukan kaidah baru yang konsen pada pengungkapan makna kontekstual sesuai dengan realitas sosial-kultur masyarakat. Salah satunya adalah metode hermeneutika yang ia rumuskan.

Hermeneutika Khaled memiliki mekanisme yang sedikit berbeda dengan konsep hermeneutika yang lain. Ia menekankan adanya analisis-kritis terhadap praktik penafsiran hadis dalam perlakuan pembaca kepada teks yang cenderung otoriter. Adanya citra penyatuan dua entitas yang kemudian menjelma “wakil Tuhan” lalu menciderai integritas teks. Sehingga melalui hermenutikanya ini, ada upaya untuk memperbaiki, merekonstruksi pandangan mengenai otoritas teks dan otoritarianisme pembaca. Bertolak dari sinilah kemudian Khaled mencoba untuk menjelaskan dan mengilustrasikan setiap posisi dari perangkat dalam segitiga hermenutika, yaitu pengarang (author), teks (text), dan pembaca (reader) secara proporsional dan negosiatif.

Hermenutika negosiatif dalam terminologi-praktis adalah sebuah metode yang mengedepankan proses negosiasi antara ketika komponen terkait. Mekanisme pencarian dan penentuan makna harus dilakukan dengan melibatkan aktivitas interaksi yang dialektik antara (author), teks (text), dan pembaca (reader), tidak ada elemen yang mendominasi dan terdominasi. Sehingga dalam konsep ini, makna tidak dapat ditentukan hanya oleh eksistensi pengarang an sich, makna tidak bisa mencapai kesimpulan yang absah hanya dari pembacaan teks semata, dan makna tidak bisa beroperasi hanya karena peran pembaca. Keseimbangan dan kesinambungan di dalamnya adalah sebuah keniscayaan yang tidak dapat dihindarkan. Karena jika ada pemisahan antar elemen akan mengakibatkan sikap otoritarianisme atau penafsiran yang despotik (despotic interpretation) dalam diskursus hukum Islam. Hal ini juga untuk menghindari adanya sikap marginalisasi dan eksklusivisme yang dapat memicu ketegangan masing-masing unsur tersebut.

Negoisasi sangat diperlukan untuk menghubungkan keterasingan dalam dimensi waktu, ruang, wilayah, dan sosio-kultural pengerang dengan teks dan pembaca. Ini sebenarnya yang menjadi inti dari sifat hermeneutika ini. Menuntut adanya proses dialog secara aktif dan komunikatif di antara ketiga komponen untuk menghadirkan analogi historis kontekstual. Teks diposisikan sebagai produk tradisional yang mampu berdialog, berinteraksi, dan berdialektika secara proprosional dan dinamis dengan pembacanya sepanjang sejarah.  Proses negoisasi ini juga diharapkan mampu memproduksi makna dan fungsi implikasi terhadap kondisi masyarakat tertentu. Interpretasi difungsikan untuk mereformulasi pemahaman yang dimiliki pengarang dan teks sesuai dengan konteks yang meliputinya. Dari upaya ini kemudian diharapkan akan berimplikasi terhadap makna yang lebih humanis dan relevan.

Sebelum membahas tentang mekanisme hermenutika humanistik-negosiatif lebih jauh lagi, penulis akan memaparkan terlebih dahulu apa yang sebenarnya dimaksud dengan ketiga komponen dalam segitiga triadik hermeneutika Khaled. Pertama, pengarang (author). Menurut Khaled pengarang dalam hal ini adalah Tuhan yang mempunyai peran penting dalam proses penentuan makna. Pada dasarnya, semua yang ada dalam penciptaan adalah milik Tuhan dan Ia memiliki otoritas tertinggi dalam menentukan kehendak-Nya. Khaled berpandangan bahwa ada jalan lain untuk menemukan maksud Tuhan yaitu dengan bantuan konteks dan latar belakang historis suatu teks. Berangkat dari bantuan ini, akan ditemukan makna awal dari sebuah teks (maksud Tuhan). Meski dimikian, makna awal ini bukan sebagai makna yang paling benar dan final sehinga dapat menutup makna yang lain, melainkan langkah awal ini sebagai petunjuk untuk memahami dinamika sosio-kultural antara teks dan pembaca pertamanya.

Kedua, teks (text). Dalam pandangan Khaled, teks sangat berpotensi untuk berubah dan berkembang sesuai dengan situasi dan kondisi. Sesuai dengan konsepnya Umberto Eco, Khaled menyatakan bahwa teks merupakan realitas yang selalu terbuka terhadap dinamika pemaknaan dan mengikuti historisitas suatu teks. Nasr Hamid Abu Zayd juga pernah menyatakan bahwa Islam adalah perdaban teks. Artinya, poros keilmuan Islam adalah teks, termasuk fikih (studi hukum Islam).[29] Studi fikih pada prinsipnya adalah aktivitas pengungkapan dan penerapan kehendak Tuhan yang bersifat abstrak dan ideal. Kehendak tersebut kemudian dipahami sebagai syari’at –terbingkai dalam al-Qur’an dan Hadis– yang diciptakan untuk merealisasikan kemaslahatan umat. Abstraksi dan idealitas dalam syari’ah tersebut tentunya sangat kompromistik untuk melahirkan makna-makna yang beragam.

Ketiga, pembaca (reader). Pembaca dalam konsep hermenutika Khaled memiliki konotasi pengertian yang berbeda dengan pembaca pada konsep hermeneutika umumnya. Pembaca yang dimaksud Khaled bukan individu universal yang ada dalam tradisi filsafat barat, melainkan komunitas interpretasi yang memiliki kapabilitas dan kemampuan di bidang hukum Islam. Atau dalam istilah yang lain, pembaca di sini digambarkan sebagai para wakil Tuhan yang mempunyai asumsi dasar atas landasan metodologi hukum yang sama antara wakil umum dan wakil khusus, baik asumsi berbasis nilai, epistemologi, akal, ataupun iman.

Berikut penjelasan mengenai keempat asumsi dasar yang digunakan sebagai dasar pengambilan kesimpulan hukum. Pertama, asumsi berbasis nilai. Asumsi ini dibangun atas dasar nilai-nilai normatif yang dianggap penting dan mendasar bagi sebuah sistem hukum, misalnya nilai-nilai perbedaan dharuriyat, hajiyyat, tahsiniyyat, dan lain sebagainya. Kedua, asumsi berbasis epistemologi. Yaitu asumsi yang berkaitan dengan acara atau metode yang digunakan untuk mencapai tujuan normatif. Ketiga, asumsi berbasis akal. Yaitu asumsi yang mendasarkan pada parsialitas bukti yang bersifat kumulatif. Rasionalitas dijadikan landasan dasar untuk menentukan objektivitas hukum, bukan pada aspek personalitas, etis dan metafisis. Keempat, asumsi berbasis iman. Yaitu asumsi yang berlandaskan pada kepercayaan terhadap autentisitas al-Qur’an dan Hadis. Ia tidak dikalim sebagai perintah yang hanya berasal dari Tuhan semata, melainkan bersumber dari dinamika interaksi antara manusia dan Tuhan. Asumsi ini pula dibangun di atas pemahaman mendasar tentang karakteristik pesan Tuhan dan tujuan-tujuannya.

Jika dicermati lebih mendalam, tampaknya konsep hermenuetika yang digagas oleh Khaled merupakan pengembangan dari hermenutika kontemporer yang telah dirumuskan oleh intelektual barat. Lebih tepatnya, hermeneutika Khaled memiliki kesamaan konsep dengan hermeneutika teoritis-filosofis-kritis sebagaimana yang dikenalkan oleh Josef Bleicher di dalam buku Contemporary Hemeneutics. Agaknya Khaled terinspirasi oleh tiga klasifikasi tentang hermeneutika kontemporer ini dan kemudian sebagai kapasitas cendekiawan muslim, ia mengembangkan karakter dari ketiga hermeneutika tersebut dalam kerangka metodologi penafsiran hukum Islam kontemporer.[30]

Dalam sebuah referensi, klasifikasi-klasifikasi tersebut pada gilirannya juga berdampak pada munculnya aliran-aliran dalam hermeneutika, antara lain: aliran objektivis (hermeneutika teoritis) yang dipelopori oleh Schleiermecher dan Dilthey, aliran subjektivis (hermneutika filosofis), dan objektivis cum subjektivis (hermeneutika filosofis-kritis) yang dipelopori oleh Gadamer dan Gracia.[31] Dari klasifikasi ini, menurut hemat penulis Khaled termasuk dalam kategori yang ketiga yaitu aliran objektivis cum subjektivis. Yaitu aliran yang memberikan keseimbangan antara pencarian makna asal teks dan peran pembaca atau penafsir. Dengan pengertian yang lain, Khaled dalam upaya pencarian makna tidak terlalu berkutat pada pembahasan tentang Tuhan selaku pengarang teks, karena ia memandang bahwa pelibatan Tuhan dalam diskursus ilmiah hanya akan membawa pada kebuntuan intelektual. Meminjam istilahnya Gadamer, ketika teks dihadapkan dengan pembaca, maka teks bersifat otonom dan independen terlepas dari pengarangnya. Namun, meski demikian, Khaled tetap meyakini authorship Tuhan (sebagai pengarang teks).

Selanjutnya yang perlu diketahui dan dipahami bahwa menurut Khaled pembahasan tentang otoritas adalah berkaitan dengan persoalan kompetensi atau autentisitas teks dan penetapan makna, sedangkan otoritarian berhubungan erat dengan persoalan perwakilan yang dalam hal ini adalah penafsir (reader) yang mendaku dirinya sebagai wakil Tuhan.[32] Berikut penjelasannya:

  1. Kompetensi (Autentisitas)

Persoalan utama dalam kompetensi adalah tentang bagaimana upaya untuk melacak kehendak Tuhan dalam teks-teks otoritatif. Apa media yang bisa digunakan untuk menelusuri kehendak Tuhan? Menurut Khaled untuk mencapai tujuan tersebut maka harus merujuk pada sumber yang paling kuat dan terpercaya dalam hukum Islam, yaitu al-Qur’an dan Hadis.[33] Bagi Khaled, kedua sumber ini menempati posisi tertinggi yang berisi petunjuk untuk mengetahui kehendak Tuhan.

Untuk menelusuri autentisitas keduanya, apakah teks tersebut benar-benar berasal dari Tuhan, Khaled menawarkan adanya uji kualifikasi atas teks tersebut. Kualifikasi yang dimaksud Khaled adalah otoritas teks yang merepresentasikan tentang Tuhan, Jika terbukti teks-teks tersebut bersumber dari Tuhan, maka sebuah teks sangat memenuhi syarat untuk mewakili atas nama Tuhan.  Begitu pula dengan hadis, jika teks terbukti dari sahabat Nabi, maka harus ada verfikasi yang mempertanyakan sejauh mana teks itu merepresentasikan Nabi. Berbeda dengan hadis yang belum tentu autentik berasal dari Nabi.

  1. Penetapan Makna

Persoalan yang menduduki peran penting kedua adalah penetapan makna. Menurut Khaled penetapan makna merupakan aktivitas yang digunakan untuk mengaktivasi makna-makna yang abstrak dalam sumber otoritatif kemudian menariknya ke dalam kesimpulan yang lebih konkrit. Yang menjadi titik tekan pada proses penetapan makna adalah teks yang bermedia bahasa. Dalam penjelasannya, Khaled mengatakan bahwa bahasa adalah sesuatu yang menjadikan teks itu open-criticized. Sangat berpotensi untuk masuknya berbagai alasan-alasan yang beragam. Bahkan, lanjutnya, bahasa sangat rentang dengan permasalahan dan perdebatan karena sifatnya yang tentatif dan relatif. Tak jarang juga bahasa adalah wahana yang dapat menyebabkan multi-interpretation karena kalimat-kalimatnya bergantung pada sistem simbol yang kemudian melahirkan ide, gagasan dan emosi khusus pada diri setiap pembaca.[34]

Pada batas tertentu, bahasa mencapai realitas objektif-konsensional yang tidak dapat dimaknai secara terpisah antara pengarang (author) ataupun pembaca (reader). Bertolak dari asas ini, Khaled meyakini bahwa dalam upaya mengungkap dimensi makna yang ada dalam bahasa itu memiliki keterbatasan-keterbatasan. Siapapun yang berusaha menjadi pembaca atas sebuah teks lingustik pada satu saat akan sampai pada satu batasan yang tidak mampu dijangkau tanpa adanya kesepakatan-kesepakatan (konsensus) yang terjadi. Simbolisme dalam sistem bahasa juga demikian rigidnya.

  1. Perwakilan

Persoalan ketiga yang menjadi pembahasan khusus oleh Khaled adalah tentang apa yang disebut dengan perwakilan. Dalam konsep hermenutika yang dikembangkan Khaled, persoalan tentang perwakilan pada dasarnya adalah sebuah upaya klasifikasi untuk merespon kegelisahan tentang siapa yang kemudian dianggap kredibel dalam memastikan dan menyelesaikan persoalan kompetensi dan penetapan makna. Ia mempertanyakan apakah persoalan perwakilan ini dapat dikaitkan dengan adanya bentuk kelembagaan yang dapat menentukan otentisitas dan makna atau persoalan perwakilan dapat diserahkan kepada setiap kreativitas individu?[35]

Terlepas dari asumsi dasar bahwa pemegang otoritas tertinggi dalam menentukan hukum adalah Tuhan, manusia dalam realitas tertentu juga diberi mandat atau peran sebagai perumus dan penentu hukum untuk mewakili suara Tuhan dan Nabi. Tuhan telah memberikan ruang otoritas kepada manusia untuk membuat penetapan makna sebagai wakil Tuhan.[36] Dari konsep perwakilan ini, Khaled kemudian merumuskan terma yang selalu digunakan saat membicarakan konsep pemegang otoritas atau otoritas persuasif dalam diskursus hukum Islam, yaitu representasi universal (common agent) dan representasi partikular (special agent). Representasi universal atau wakil umum sebagai komunitas interpretasi dalam perumusan hukum adalah semua kelompok pembaca – seluruh umat muslim yang beriman dan saleh- yang menundukkan keinginan dan menyerahkan keputusannya kepada kelompok wakil tuhan yang mempunyai kapasitas tertentu (ahli hukum). Adapun representasi partikular (wakil khusus) adalah sekelompok ahli hukum dari umat Islam yang memiliki kompetensi dan pengetahuan yang kredibel dalam membaca, memahami, dan menganalisis perintah Tuhan.[37]

Dalam uapaya untuk menjadi wakil yang kredibel, maka Khaled mensyaratkan adanya lima kategori atau pra-syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi wakil Tuhan yang humanis dan tidak otoriter. Jika tidak, cukup masuk akal jika dikatakan bahwa sejauh berkaitan dengan wakil umum, wakil khusus ini telah melakukan tindakan yang di luar batas kewenangan hukum yang dimilikinya (ultra vires) dan menciderai kepercayaan yang telah diberikan.[38] Lima prasyarat itu antara lain:[39]

  1. Kejujuran (honesty)

Yaitu sikap yang tidak berpura-pura dalam memahami kapasitas diri. Jika memang ia tidak mengetahui persoalan yang sedang dibicarakan hendakanya berterus terang tentang sebarapa dalam ilmu dan pengetahuan yang telah ia dapat dalam memahami kehendak Tuhan. Para wakil Tuhan diharuskan bersikap jujur dan dapat dipercayasebagai wakil dalam memahami perintah Tuannya. Seperti contoh adanya transparansi yang tidak disembunyi-sembunyikan oleh wakil khusus kepada wakil umum. Dengan kata lain, wakil Tuhan tidak membatasi, menyembunyikan, berbohong, atau menipu dalam menjelaskan semua perintah yang telah dipahami.

  1. Kesungguhan (diligence)

Yaitu sebuah upaya untuk mengerahkan dan mencurahkan segala kemampuan dan kerja keras dalam menyelidiki, mengkaji, dan menganalisis sebuah makna yang ada dan berhati-hati ketika harus berhubungan dengan hak orang lain. Seorang wakil Tuhan harus menghindari tindakan yang dapat merugikan orang lain.

  1. Kemenyeluruhan (comprehensiveness)

Yaitu upaya untuk menyelidiki kehendak Tuhan secara holistik dan dengan mempertimbangkan segala teks yang relevan serta melibatkan berbagai aspek keilmuan yang turut memberi kontribusi dalam perumusan hukum, seperti ilmu sosial, politik, ekonomi, dan lain sebagainya.

  1. Rasionalitas (reasonabless)

Yaitu usaha untuk memahami dan menginterpretasi teks secara ilmiah, filosofis, dan rasional. Sebagai wakil Tuhan harus mampu mengedepankan aspek rasionalitas dalam memaknai sebuah hukum, karena jika tidak rasional dan objektif, dikhawatirkan nantinya akan menyebabkan timbulnya tindakan subjektivitas yang sewenang-wenang.

  1. Pengendalian Diri (self-restraint)

Para wakil Tuhan dituntut untuk mempunyai sikap pengendalian diri terhadap kehendak-kehendak yang melampaui batas, tindakan yang cenderung arogan, dan tidak memikiran kemaslahatan umum. Pengendalian diri ini menurut Khaled sangat penting, karena akan membawa dampak pada sisi humanitas penafsiran. Dalam bingkai ini, para wakil Tuhan harus memiliki tingkat kewaspadaan yang tinggi untuk menghindari penyimpangan dan tindakan yang di luar batas peran Tuannya. Selain itu, sikap ini adalah representasi dari peran epistemologis dan moral dalam sebuah agama.

Kerangka konseptual hermeneutika humanistik-negosiatif Khaled Abou El Fadl

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sebagai upaya untuk memperdalam wawasan tentang hermeneutika Khaled sebagai paradigma epistemologis dalam diskursus hukum Islam, penulis di sini akan menyertakan konsepsi tentang hermeneutika al-Qur’an yang dirumuskan oleh intelektual muslim kontemporer, Nasr Hamid Abu Zaid sebagai bentuk pembacaan atau cara pandang yang lain dalam menentukan makna dari sebuah teks. Dalam hal ini, penulis merasa ada kesamaan metodologi yang dibangun oleh Khaled dan Nasr Hamid. Penulis mencoba menguraikan secara singkat pengetahuan tentang hermeneutika Nasr Hamid Abu Zaid meliputi kerangka konseptual yang dibangun dan metode yang ditawarkan dalam menetapkan hukum dari teks-teks otoritatif keagamaan.

Paradigma hermeneutika Nash Hamid pada mulanya berangkat dari pemahaman Mu’tazilah tentang hakikat tekstualitas al-Qur’an. Nasr Hamid lebih cenderung sepakat dengan pndapat Mu’tazilah yang mengklaim bahwa al-Qur’an itu diciptakan Tuhan yang kemudian melahirkan pemahaman bahwa al-Qur’an adalah fenomena historis dan mempunyai konteks spesifiknya sendiri.[40] Ia juga menambahkan bahwa teks Al-Qur’an, ketika diturunkan Allah kepada Nabi-Nya, memakai bahasa yang dimengerti umat tempat dia diturunkan. Adapun Al-Qur’an yang kita baca sekarang merupakan “teks peradaban” yang dipengaruhi oleh peradaban Arab saat itu, yang selanjutnya berfungsi sebagai penuntun menuju peradaban baru.[41]

Dari paradigma ini, maka Nasr Hamid kemudian memandang perlu adanya metodologi baru dalam pencarian makna al-Qur’an. Yaitu metode yang menekankan pada aspek-aspek eksternal dari teks (sosio-kultural) dan pendekatan kebahasaan (al-manhaj at-tahlili al-lughawi) meliputi fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik.[42]  Pemikiran semacam ini pada awalnya diinspirasi oleh gurunya, Amin al-Khulli yang dikenal sebagai pemikir dan menjadi peletak pertama metode linguistik dan kritik sastra dalam kajian al-Qur’an. Metode ini sebenarnya dirancang untuk mengurangi dan membatasi subjektivitas penafsir yang cenderung teologis dan ideologis. Bertolak dari asumsi ini, kemudian Nasr Hamid membuat sebuah pengembangan tentang rumusan metodologis yang menekankan pada makna dan signifikansi teks atau ayat al-Qur’an.

Dalam modofikasinya, ia mengadopsi teori E. D. Hierch tentang makna dan signifikansi yang diistilahkan dengan maghza. Makna menurut Nasr Hamid adalah sesuatu yang diperoleh dari pemahaman terhadap teks secara objektif sedangkan signifikansi adalah apa yang muncul dalam hubungan antara makna dan pembaca. Dalam pengertian yang lain, makna bersifat statis dan signifikansi bersifat dinamis sesuai dengan konteks yang mengitarinya. Makna digunakan untuk menelusuri makna historis awal kota kata al-Qur’an dan maghza digunakan untuk mengaitkan al-Qur’an dengan realitas kekinian, untuk menjadikan al-Qur’an sebagai solusi terhadap permasalahan yang ada.[43]

Dengan pendekatan semacam ini, Nasr Hamid berkeyakinan untuk mencegah terjadinya penafsiran yang bercorak ideologis dan tendensius-repetitif, dan karenanya sejalan dengan proyek pemikiran Khaled M. Abou El Fadl dalam mencari penafsiran otoritatif atas teks-teks hukum, dan pada gilirannya, mencari bentuk interpretasi yang inklusif dan demokratis, yang berpihak pada keadilan dan maqashid asy-syari‘ah. Inilah landasan pemikiran Abu Zaid untuk mendekonstruksi otoritas tekstual, agar terarah pada penafsiran yang lebih kontekstual dan humanis.

Dalam tataran ini, konsep tentang makna dan signifikansi (maghza) adalah sebuah aktivitas yang mengarah pada bentuk interaksi dan dialog yang komunikatif. Makna yang notabennya adalah representasi dari teks harus diinterpretasi secara aktif oleh pembaca. Hal ini sejalan dengan apa yang dinyatakan oleh Khaled bahwa proses negoisasi antara teks dan pembaca adalah hal yang sangat penting dalam penentuan makna. Namun, Hermeneutika Khaled memiliki mekanisme yang sedikit berbeda dengan konsep hermeneutika yang lain. Ia menekankan adanya analisis-kritis terhadap praktik penafsiran hukum Islam dalam perlakuan pembaca kepada teks yang cenderung otoriter. Adanya citra penyatuan dua entitas yang kemudian menjelma “wakil Tuhan” lalu menciderai integritas teks. Sehingga melalui hermenutikanya ini, ada upaya untuk memperbaiki, merekonstruksi pandangan mengenai otoritas teks dan otoritarianisme pembaca.

  1. Implementasi Hermenutika Humanistik-Negosiatif Abou El Fadl terhadap Hadis-hadis Misoginis

Salah satu kegelisahan akademis yang kemudian menginspirasi lahirnya teori hermeneutika humanistik-negosiatif yang dikembangkan Khaled adalah tindakan-tindakan otoritarianisme penafsiran yang dilakukan lembaga fatwa keagamaan CRLO (Coucil of Scientific Research and Legan Opinion) Arab Saudi terhadap hadis-hadis Nabi, khususnya hadis-hadis misoginis. Secara spesifik, Khaled mengkritisi penetapan-penetapan hukum yang cenderung bias gender, merendahkan kaum perempuan, mendiskreditkan dan memarginalkan posisi perempuan di antara kaum lelaki. Para ahli hukum CRLO dengan kuat mendominasi penafsiran dengan mengeluarkan fatwa keagamaan tentang wanita yang parsialistik, eksklusif, dan otoriter. Mereka mengklaim bahwa ketetapan-ketetapan yang dikeluarkan bersifat final dan tidak ada ruang negosiasi.  Di antara persoalan-persoalan perempuan yang mereka fatwakan adalah hadis tentang: 1) sujud pada suami dan menjilati bisulnya serta pergulatan dalam metodologi hadis, 2) suami dan Tuhan tetap gembira dan membawa kita masuk surga, 3) tulang rusuk yang bengkok, kecerdasan di bawah standar, pembawa sial, anjing, dan perempaun, 4) salat di lemari, merapat ke dinding, dan bahaya godaan perempuan, dan 5) rasisme, seksisme, dan rasa keindahan.

Dalam segi praktisnya, yang ingin penulis paparkan lebih terperinci adalah tentang hadis bahaya godaan perempuan yang kemudian distigmakan dengan tidak diperbolehkannya perempuan eksis di tengah-tengah publik. Persoalan hukum ini mayoritas besar dibangun dengan bersandarkan pada gagasan tentang fitnah.

Beikut redaksi hadis tentang fitnah perempuan. Abu Sa’id al-Khudri meriwayatkan bahwa Nabi pernah bersabda, “Bumi ini subur dan indah, dan Tuhan telah menyerahkan amanah kepada kalian (di muka bumi ini) untuk melihat amal perbuatan kalian. Jika muncul (godaan) dunia, berhati-hatilah kalian, dan berhati-hatilah terhadap perempuan, karena fitnah pertama yang menimpa orang Israel adalah (fitnah yang berasal) dari perempuan”. Dalam versi yang lain, Nabi juga diriwayatkan pernah bersabda: “Saya tidak meninggalkan umat saya dengan fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnah yang dibawa kaum perempuan”. Dalam redaksi yang lain, Nabi diriwayatkan pernah bersabda, “Perempaun adalah perangkap setan”.[44]

Dalam kaitannya dengan aurat dan fitnah, dituturkan bahwa ‘Abd Allah ibn ‘Umar meriwayatkan bahwa Nabi pernah bersabda, “(Seluruh tubuh) perempuan adalah aurat sehingga ketika mereka keluar rumah, setan menjadikan mereka sebagai sumber godaan seksual”.  Dalam riwayat yang lain, hadis tentang aurat perempuan juga ada dalam versi yang diriwayatkan oleh Ibn al-‘Abbas, Nabi pernah bersabda, “Seorang perempuan memiliki sepuluh aurat, ketika ia menikah, suaminya menutup salah satu auratnya, dan ketika meninggal, maka liang kuburnya akan menutup semuanya”.[45] Asumsi logis yang dapat ditarik kesimpulan dari beberapa hadis tersebut adalah bahwa agar tidak terjadi fitnah dan kerusakan, perempuan harus mati dan ditiadakan.

Nampak jelas bahwa hadis-hadis di atas merupakan landasan dasar yang digunakan para ahli hukum CRLO dalam menetapkan hukum bagi perilaku dan penampilan perempuan. Hadis-hadis tersebut juga digunakan sebagai alat yang memosisikan perempuan sebagai pihak yang dicurigai dan berbahaya, serta kemudian mengaitkan perempuan dengan ancaman yang harus dibendung. Tak heran jika sekalipun perempuan telah menggunakan hijab dan telah menutup bagian tubuhnya yang sangat pribadi, ia tetap tidak boleh berbaur dengan lelaki pada semua aktivitas publik.

Bertolak dari persoalan di atas, Khaled menyatakan bahwa pemahaman terhadap hadis yang semacam itu adalah bentuk penafsiran otoriter yang tidak melibatkan aspek-aspek yang lainnya, seperti penyelidikan terhadap kompetensi teks, kredibiltas rantai periwayatan, asumsi dasar yang digunakan dan analisis proporsionalitas. Dalam istilahnya Nasr Hamid, pemahaman tentang hadis tersebut cenderung subjektif-individualistik-tekstual serta tendensius dalam kepentingan tertentu. Untuk lebih memperjelas argumentasi Khaled, penulis akan mencoba menjabarkannya dalam sistematika argumentatif berikut:

  1. Dalam penyelidikannya, Khaled mencoba menggunakan aspek kompetensi dalam melacak otoritas teks. Ia agaknya menggunakan ilmu-ilmu hadis klasik, seperti ilmu rijal al-hadis, naqd as-sanad, naqd al-matn, untuk menulusuri autentisitas hadis ini. Sepanjang penelitiannya, ia menemukan bahwa hadis tersebut adalah hadis ahad yang secara periwayatan tidak mencapai kualitas yang dapat dibenarkan atau dalam istilah yang lain tidak mencapai derajat shahih bahkan mutawattir.
  2. Khaled menyatakan bahwa persoalan hadis ini, peran Nabi dalam proses kepengarangan bersifat minimal. Dengan menggunakan keyaainan berbasis iman bahwa Nabi tidak diutus Tuhan untuk menegaskan dan mengesahkan struktur kekuasaan konservatif dan opresif, hadis-hadis yang menegaskan hegemoni patriarki harus melewati penyelidikan yang ketat. Karena hadis-hadis tersebut berpotensi membawa kepentingan patriarkis yang mendukung dan membesa-besarkan jenis periwayatan semacam ini. Dalam persoalan ini, maka Khaled menyebut bahwa suara Nabi dalam proses kepengarangan tersebut benar-benar dibungkam dan ditenggelamkan.
  3. Khaled menambahkan bahwa untuk mengevaluasi proses kepengarangan di balik hadis-hadis fitnah, diperlukan analisis keseluruhan bukti sebagaimana lima prasyarat yang harus dipenuhi oleh penafsir, termasuk dinamika retoris hadis-hadis tersebut beserta seluruh fungsi dan potensinya. Proses negoisasi historis juga dimasukkan untuk merekonstruksi riwayat-riwayat yang menggambarkan sebuah praktik historis ke dalam riwayat-riwayat normatif tentang fitnah perempuan.
  4. Khaled dalam upaya analisisnya harus menyertakan persyaratan proporsionalitas. Hal ini diperlukan untuk mengukur dan menentukan bahwa semakin besar dampak teologis, sosial, dan moral sebuah haids, maka semakin ketat pula standar penyelidikan yang harus dilalui oleh hadis tersebut. Uji proporsionalitas ini tegas Khaled ditujukan untuk menverifikasi terhadap suatu kesimpulan yang dapat dibuktikan secara empiris. Artinya, dalam praktiknya, apakah hadis tentang fitnah perempuan ini relevan dengan pengalaman manusia atau tidak, apakah realitas yang terjadi secara faktual dapat mempertegas atau sama sekali menolak kredibilitas hadis tersebut. Sehingga hal yang patut dipertimbangkan adalah dua entitas hadis yang berbeda: hadis sebagai entitas normatif dan entitas empiris, karena tidak semua apa yang disampaikan hadis secara normatif berlaku dan berjalan secara signifikan dalam tataran empiris hadis. Bisa jadi problematika tentang fitnah tidak saja melekat pada diri perempuan melainkan juga dapat terjadi dalam diri laki-laki. Fitnah yang secara normatif hadis dikonstruksi sebagai ancaman bahaya dan sumber daya tarik seksual dan godaan perempuan bagi laki-laki, dalam realitas empirisnya, fitnah itu sendiri adalah proyeksi laki-laki. Di antaranya keduanya ini, Khaled menekankan adanya proposionalitas antara porsi normatif dan porsi empiris. Dalam istilah yang lain, Khaled mengatakan bahwa bisa dan tidaknya hadis diberlakukan bergantung pada apakah hadis selaras dengan pertimbangan hukum, ajaran, dan moral yang lebih tinggi.

 

PENUTUP

Dari uraian-uraian yang telah dikemukakan, penulis secara garis besar dapat menarik beberapa kesimpulan. Secara definitif-praktis, Khaled menjelaskan bahwa otoritarianisme merupakan tindakan-tindakan yang sama sekali tidak berlandaskan pada pra-syarat pengendalian diri dan melibatkan klaim palsu yang dampaknya adalah penyalahgunaan kehendak Tuhan. Otoritarianisme seringkali dikonstruksi dalam rangka untuk menafikan realitas ontologis Tuhan dan mengambil alih kehendak Tuhan oleh wakil Tuhan sehingga secara efektif wakil tersebut kemudian dapat mengacu pada dirinya sendiri.

Di samping konstruksi otoritarianism, Khaled dalam rangka memberikan uraian yang komprehensif tentang interpretasi atas penetapan makna, ia berupaya menjelaskan sebuah konsep tentang otoritas dalam penafsiran. Menurutnya otoritas dalam diskursus hukum Islam terutama hadis adalah sesuatu yang sangat krusial dan harus dapat dipahami secara tepat agar terhindar dari sebuah kesalahpahaman dan penyelewengan dalam pengambilan keputusan. Ia menguraikan bahwa otoritas mempunyai dua terma yang sangat jauh berbeda artinya, yaitu otoritas koersif dan otoritas persuasif. sebuah kekuasaan yang dikonstruksi dengan menggunakan perangkat-perangkat hukum formal yang ada dalam sebuah instansi, ia bersifat mengikat dan harus ditaati. Biasanya otoritas koersif dapat berjalan dalam dimensi struktural. Sedangkan otoritas persuasif adalah kekuasaan yang bertolak dari adanya bukti-bukti rasional tentang kredibilitas pemegang kekuasaan. Dalam konteks ini, otoritas persuasif dapat berjalan dengan asas kepercayaan.

Adapun humanistik-negosiatif adalah sifat yang menjadi karakter dari hermenutika Khaled. Penulis mengambil istilah humanistik karena berpijak pada sifatnya yang mengedepankan aspek-aspek sosiologis dan antropologis manusia dan istilah negosiatif berlandaskan pada asas pencarian makna yang dilakukan dengan mensyaratkan adanya interaksi antara pengarang (author), teks (text), dan pembaca (reader).

Khaled mensyaratkan adanya lima kategori atau pra-syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi wakil Tuhan yang humanis dan tidak otoriter. Jika tidak, cukup masuk akal jika dikatakan bahwa sejauh berkaitan dengan wakil umum, wakil khusus ini telah melakukan tindakan yang di luar batas kewenangan hukum yang dimilikinya (ultra vires) dan menciderai kepercayaan yang telah diberikan. Lima prasyarat itu antara lain: 1) Kejujuran (honesty), 2) Kesungguhan (diligence), 3) Kemenyeluruhan (comprehensiveness), 4) Rasionalitas (reasonabless), 5) Pengendalian Diri (self-restraint).

 

DAFTAR PUSTAKA

Referensi Primer:

Khaled M. Abou El Fadl. 2004. Atas Nama Tuhan: dari Fikih Otoriter ke Fikih Otoritatif, terj R. Cecep Lukman Yasin. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta

 

Referensi Pendukung:

Buku

Philip K. Hitti. 2018. History of The Arabs. Jakarta: Zaman

Aksin Wijaya. Dari Membela Tuhan Ke Pembela Manusia. 2018. Bandung: Mizan

Roibin. 2009. Relasi Agama dan Budaya Masyarakat Kontemporer. Malang: UIN Press

Josef Bleicher. 1980. Contemporery Hermeneutics. London: Routledge and Paul Keangan

Mudjia Raharjo. Dasar-dasar Hermeneutika Antara Intensionalisme & Gadamerian. Yogyakarta:

Ar-Ruzz Media, 1998

Musnur Hery dan Damanhuri Muhammed. 2005. Hermeneutika: Teori Baru Mengenai

Interpretasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Fakhruddin Faiz. 2002. Hermeneutika Qur’ani: Antara Teks, Konteks dan Kontekstualisasi.

Yogyakarta: Qalam

Budi Hardiman. 2003. “Hermeneutika, Apa itu?”: Melampaui Positivisme dan Modernitas.

Yogyakarta: Kanisius

Yusriandi. 2010. “Hermeneutika Hadis Abou El-Fadl,” dalam Sahiron Syamsuddin (ed),

Hermeneutika Al- Qur’an dan Hadis Yogyakarta: elSAQ Press

Richard,Palmer. 1996. Hermeneutics: Interpretation in Scheilermacher, Dilthey, Heidegger and

Gadamer, Evanston: Northwestern University Press

  1. Nur Kholis Setiawan. 2011. Emilio Betti dan Hermeneutika Sebagai Auslegung dalam Upaya

Integrasi Hermenutika dalam Kajian Qur’an dan hadis; Teori dan Apliksi, ed. Syafaatun

Al-Mirzanah dan Sahiron Syamsuddin. Yogyakarta: Lembaga Penelitian Universitas

Negeri Sunan Kalijaga

  1. Quraish Shihab. 2013. Kaidah Tafsir Syarat, Ketentuan, dan Aturan yang Patut Anda

Ketahui dalam Memahami Ayat-ayat Al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati

Nasr Hamid Abu Zaid. 2002. Tekstualitas Al-Qur’an , ter. Khoiron Nahdliyin. Yogyakarta: LKiS

Annas Muslihin. 2013. Signifikansi Hermeneutika Dalam Kajian Hukum Islam Kontemporer:

studi atas pemikiran Khaled Abou ElFadl. DISERTASI, UIN Yogyakarta

Hans George Gadamer. 1975. Truth and Method. New York: The Seabury Press

Fahruddin Faiz. 2005. Hermeneutika al-Qur’an: Tema-tema Kontroversial. Yogyakarta: eLSAQ

Press

Sahiron Syamsuddin. 2009. Hermeneutika dan Pengembangan Ulumul Qur’an. Yogyakarta:

Nawasea Press

Mun’im Sirry. 2015. Tradisi Intelektual Islam “Rekonfigurasi Sumber Otoritas Agama”.

Malang: Madani

Moch Nur Ichwan. 2003. “Meretas Kesarjanaan Kritis; Teori Hermeneutika  Nasr Abu Zayd”.

Jakarta: Teraju

Sunarwoto dkk. 2003. Hermenetika al-Qur’an Madzhab Yogya. Yogyakarta: Islamika

Nasr Hamid Abu Zaid. 2003. Kritik Wacana Agama. Yogyakarta: LKiS

 

Jurnal Ilmiah

Muzayyin, Hermeneutika Hukum Islam Khaled Abou El Fadl: Sebuah Tawaran Dalam Membendung Otorianisme Fatwa MUI, Jurnal Potret Pemikiran, Vol. 20, No. 1, Januari – Juni

2016

Nasrullah. 2008. Hermeneutika Otoritatif Khlaed M.Abou El Fadl; Metodologi Kritis Atas

Penafsiran Otoritarianisme Dalam Pemikiran Islam‛. Jurnal Hunafa, Vol.5, No. 2

Abdul Madjid. 2013. Hermeneutika Hadist Gendr (Studi Pemikiran Khaled M.Abou El Fadl

dalam buku Speaking in God’s Name; Islamic, Authority, And Women). Jurnal Al-Ulum,

Vol.13, No.2  

Akrimi Matswah. 2013. Hermeneutika Negosiatif Khaled M.Abou El Fadl Terhadap Hadis Nabi.

Jurnal ADDIN, Vol.7, No. 2

Khabibi Muhammad Luthfi. 2017. “Aktivasi” Makna-makna Teks dengan Pendekatan

Kontemporer: Epistemologi Hermeneutika Subjektif-Fiqhiyyah El-Fadl, Jurnal

THEOLOGIA, Semarang: Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang) Vol. 28, No. 1

Abid Rohmanu. 2011. Khaled Abou El-Fadl dan Orientasi Humanistik dalam Studi Fiqh, (Jurnal

Justicia Islamica IAIN Ponorogo, Vol. 8, No. 2

[1] Muzayyin, Hermeneutika Hukum Islam Khaled Abou El Fadl: Sebuah Tawaran Dalam Membendung Otorianisme Fatwa MUI, Jurnal Potret Pemikiran, Vol. 20, No. 1, Januari – Juni 2016

[2] Philip K. Hitti, History of The Arabs, (Jakarta: Zaman, 2018), h. 226, lihat juga Aksin Wijaya, Dari Membela Tuhan Ke Pembela Manusia, (Bandung: Mizan, 2018), h. 21

[3] Khaled M. Abou El Fadl, Atas Nama Tuhan: dari Fikih Otoriter ke Fikih Otoritatif, terj R. Cecep Lukman Yasin (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2004), h. 46

[4] Philip K. Hitti, History of The Arabs…h. 227

[5] Roibin, Relasi Agama dan Budaya Masyarakat Kontemporer, (Malang: UIN Press, 2009). h. 185

[6] Khaled M. Abou El Fadl, Atas Nama Tuhan: dari Fikih Otoriter ke Fikih Otoritatif…h. 1

[7] Nasrullah, Hermeneutika Otoritatif Khlaed M.Abou El Fadl; Metodologi Kritis Atas Penafsiran Otoritarianisme Dalam Pemikiran Islam‛, (Jurnal Hunafa, Vol.5,No. 2, 2008), h. 163

[8] Abdul Madjid, ‚Hermeneutika Hadist Gender (Studi Pemikiran Khaled M.Abou El Fadl dalam buku Speaking in God’s Name; Islamic, Authority, And Women), (Jurnal Al-Ulum, Vol.13, No.2, 2013), h. 295

[9] Akrimi Matswah, Hermeneutika Negosiatif Khaled M.Abou El Fadl Terhadap Hadis Nabi, (Jurnal ADDIN,Vol.7,No. 2,Agustus 2013), h. 251

[10] Nasrullah, Hermeneutika Otoritatif,….h.140

[11] Khabibi Muhammad Luthfi, “Aktivasi” Makna-makna Teks dengan Pendekatan Kontemporer: Epistemologi Hermeneutika Subjektif-Fiqhiyyah El-Fadl, Jurnal THEOLOGIA, (Semarang: Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang) Vol. 28, No. 1, Juni 2017, h. 21

[12] Khabibi Muhammad Luthfi, “Aktivasi” Makna-makna Teks dengan Pendekatan Kontemporer: Epistemologi Hermeneutika Subjektif-Fiqhiyyah El-Fadl, …h. 210

[13] Abid Rohmanu, Khaled Abou El-Fadl dan Orientasi Humanistik dalam Studi Fiqh, (Jurnal Justicia Islamica IAIN Ponorogo, Vol. 8, No. 2, 2011) h. 8

[14] Yusriandi, “Hermeneutika Hadis Abou El-Fadl,” dalam Sahiron Syamsuddin (ed), Hermeneutika Al- Qur’an dan Hadis (Yogyakarta: elSAQ Press, 2010), h. 413

[15] Abid Rohmanu, Khaled Abou El-Fadl dan Orientasi Humanistik dalam Studi Fiqh…. h. 9

[16] Khaled M. Abou El Fadl, Atas Nama Tuhan…h. 204

[17] Khaled M. Abou El Fadl, Atas Nama Tuhan…h. 204

[18] Khaled M. Abou El Fadl, Atas Nama Tuhan…h. 206

[19] Khaled M. Abou El Fadl, Atas Nama Tuhan…h. 37

[20] Khaled M. Abou El Fadl, Atas Nama Tuhan…h. 37

[21] Khaled M. Abou El Fadl, Atas Nama Tuhan…h. 41

[22] Khaled M. Abou El Fadl, Atas Nama Tuhan…h. 38

[23] Richard,Palmer, Hermeneutics: Interpretation in Scheilermacher, Dilthey, Heidegger and Gadamer, (Evanston: Northwestern University Press, 1996), h. 20

[24] Richard,Palmer, Hermeneutics…., hlm.33

[25] M. Nur Kholis Setiawan, Emilio Betti dan Hermeneutika Sebagai Auslegung dalam Upaya Integrasi Hermenutika dalam Kajian Qur’an dan hadis; Teori dan Apliksi, ed. Syafaatun Al-Mirzanah dan Sahiron Syamsuddin, (Yogyakarta; Lembaga Penelitian Universitas Negeri Sunan Kalijaga, cet.II, 2011), h. 4

[26] Hans-Georg Gadamer, Hemeneutika Klasik dan Filosofis,  Penerjemah M. Nur Kholis Setiawan dalam Syafa’atun al-Mirzanah dan Sahiron Syamsuddin, ed. Pemikiran hermeneutika dalam Tradisi Barat: Reader, (Yogyakarta: Lembaga Penelitian UIN Sunan Kalijaga, 2011), 143. Hamid Fahmi Zarkasyi, Menguak Nilai Dibalik Hermeneutika. Jurnal Islamia, th 1 no. 1, Maret 2004, 17.

[27]

[28] M. Quraish Shihab, Kaidah Tafsir Syarat, Ketentuan, dan Aturan yang Patut Anda Ketahui dalam Memahami Ayat-ayat Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2013), h. 429

[29] Nasr Hamid Abu Zaid, Tekstualitas Al-Qur’an , ter. Khoiron Nahdliyin (Yogyakarta: LKiS, 2002), h. 1

[30] Tim Penyusun Pascasarjana IAIN Sunan Ampel, Hermeneutika dan Fenomenologi dari Teori ke Praktik, (Surabaya: Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel, 2007), h. 57

[31] Sahiron Syamsuddin, Hermeneutika dan Pengembangan Ulumul Qur’an, (Yogyakarta: Nawasea Press, 2009), h. 26

[32] Khaled M. Abou El Fadl, Atas Nama Tuhan…h. 128-130

[33] Khaled M. Abou El Fadl, Atas Nama Tuhan…h. 87-88

[34] Khaled M. Abou El Fadl, Atas Nama Tuhan…h. 133

[35] Khaled M. Abou El Fadl, Atas Nama Tuhan…h. 56

[36] Khaled M. Abou El Fadl, Atas Nama Tuhan…h. 91

[37] Khaled M. Abou El Fadl, Atas Nama Tuhan…h. 55

[38] Khaled M. Abou El Fadl, Atas Nama Tuhan…h. 98

[39] Khaled M. Abou El Fadl, Atas Nama Tuhan…h. 100-103

[40] Mun’im Sirry. Tradisi Intelektual Islam “Rekonfigurasi Sumber Otoritas Agama”. (Malang: Madani, 2015), h. 17

[41] Nasr Hamid Abu Zaid, Kritik Wacana Agama, (Yogyakarta: LKiS, 2003). h. 101

[42] Sunarwoto dkk, Hermenetika al-Qur’an Madzhab Yogya, (Yogyakarta: Islamika, 2003), h. 107

[43] Aksin Wijaya, Arah Baru Studi Ulum al-Qur’an; Memburu Pesan Tuhan dibalik Fenomena Budaya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), h. 200

[44] Khaled M. Abou El Fadl, Atas Nama Tuhan…h. 348

[45] Khaled M. Abou El Fadl, Atas Nama Tuhan…h. 348

ArticleBook Review

Story in Philosophical Notes; Self, Dreams, Love, and Mindset

Assalamualaikum

Hi, Readers!

Dear Tomorrow, Notes to My Future Self” sebuah karya Maudy Ayunda yang sederhana, bernuansa klasik, tapi membawa semangat baru dan energik. Menurut saya, buku ini sangat menarik, isinya bagus dan sarat akan makna yang dalam. Buku ini bukan buku biasa. Walaupun dari sisi luar tampak biasa, desain cover yang klasik, sunyi dari gambar, dan bebas dari tipografi yang rumit, buku ini tetap memberikan kesan yang elegan dan berkarakter. Dari segi substansi materi, buku ini dapat dikategorikan buku genre motivasi yang disajikan dengan cara quotasi. Sangat terlihat dalam buku ini, Maudy mampu menyajikan kata, prasa, dan kalimat yang begitu menggugah jiwa dan pikiran. Tak heran, perempuan lulusan Oxford University ini sangat cerdas merangkai kata demi kata, frasa demi frasa, hingga kalimat demi kalimat dengan bahasa Inggris yang lugas dan sederhana namun memliki kekuatan yang luar biasa. Untaian kalimatnya mengandung makna filosofis yang tidak bisa dicerna dengan satu kali pembacaan saja. Kalimat demi kalimat yang ditulis mempunyai nyawa yang mampu menghidupkan jiwa yang telah padam. Sungguh luar biasa.

Secara garis besar, buku ini terdiri dari empat bab: pertama, membahas tentang “Notes on being Yourself”, kedua, tentang “Notes on Dream”, ketiga, “Notes on Love”, dan keempat, membahas tentang “Notes on Mindest”. Dalam pengantarnya, Maudy mengatakan bahwa buku ini adalah kompilasi dari perjalanan hidupnya; rangkaian pengalaman, pemikiran, dan percakapan dengan dirinya tentang cinta, mimpi, dan kehidupan.

Begitu awal membaca buku ini, saya sangat tertarik dengan torehan kalimatnya yang begitu filosofis tentang note yang pertama yaitu Self (jati diri). Maudy mempunyai pemikiran tersendiri mengenai label self atau jati diri sesorang. “Yourself may not be something that you can find-it may not exist just yet. It is a combination of what you do, what you stand for, and what you want to be. In other words, your self is for you to define-not for you to find”. Pernyataan ini menurut saya sangat luar biasa. Pilihan kata dan akurasi makna begitu mendalam. Selama ini ide yang ada di sekitar kita tentang jati diri adalah sesuatu yang ditemukan dalam diri seseorang, sesuatu yang melekat di dalam diri, sehingga kita harus mengeluarkannya agar bisa menjadi sesuatu yang berguna, namun Maudy mempunyai prespektif lain mengenai jati diri. Jati diri menurutnya adalah bukan hakikatnya sesuatu yang datang dari diri seseorang, melainkan Ia adalah bagian dari sesuatu yang lain; bagian dari interaksi dengan manusia, kelompok kecil, masyarakat, bahkan dunia. Jati diri sesungguhnya adalah sesuatu yang harus kita maknai dengan benar, bukan sesuatu yang harus kita cari hingga melupakan alam sekitar kita.

Yang kedua adalah tulisan tentang dreams (mimpi). Beberapa quote yang ia tulis begitu kuat dengan makna dan membuat saya harus membaca berulang-ulang, di antaranya; “Frankly, I think lack of growth is a so much scarier. Take risks, instead”, “The only consistency you must maintain is in positive growth and improvement. Other that, what is life without changes?”. Dalam dua kalimat quote tersebut, Maudy membicarakan soal keberanian untuk tumbuh dan berkembang serta mengambil resiko di dalamnya. Menurutnya, hal yang paling menakutkan adalah kurangnya pengembangan dalam diri, jika hal itu terjadi maka seseorang tidak bisa menjaga konsistensinya untuk selalu melaju dan bergerak ke jenjang selanjutnya. Hidupnya akan stagnan, berada dalam kondisi yang statis. “Doing what you love is freedom, Loving what you do is happiness”. Dari apa yang kita usahakan dan upayakan, titik temunya adalah sebuah kebebasan dan kebahagiaan, freedom and happiness. Apapun yang kita lakukan adalah bentuk dari sebuah kebebasan, dan mencintai apapun yang kita lakukan adalah bentuk dari sebuah kebahagiaan. Tentang mimpi, Maudy juga menegaskan bahwa sukses itu adalah menyoal tentang mencintai diri sendiri; mencintai apa yang kita lakukan dan mencintai bagaimana caranya, “Success is liking yourself, liking what you do, and liking how do you do it”. “Impossible is just an opinion – Paulo Ceolho”.

Di bagian yang ketiga “Notes on Love”, Maudy berbicara banyak tentang bagiamana kita mencintai, menyayangi, menghargai, bahkan memaafkan orang lain. Uraiannya tentang kerendahan hati, kedermawanan, serta kerelaan untuk berkorban, begitu indah dan menyentuh hati. “Do not afraid to give, because even if the subject of your love gives less in return, the world will give back so much more”. Satu quote yang saya kira mampu meyakinkan kita, bahwa kebaikan itu murni adanya. Tidak berdasarkan rekaan, pura-pura, apalagi niat hanya untuk mencari derajat atau identitas diri. Kebaikan apapun bentuknya juga bukan untuk dipamerkan dan dipertontonkan ke publik, kebaikan adalah sebuah privasi individu dengan penciptanya. Sudah menjadi hukum qodrati, semua yang baik akan kembali kepada yang baik, semua yang buruk juga akan kembali menjadi sesuatu yang buruk. Just keep to be kind person and stay away to forgive people

Tidak kalah the best interpretated sentences, poin keempat adalah “Notes on Mindset”. Dari sekian part yang ditulis, mungkin ini yang menurut saya sangat kompleks dan sesuai dengan konteks masa kini. Maudy dalam part ini cenderung melakukan kritik terhadap kaum muda, khususnya kaum muda perempuan millineal abad 21. Maudy mengawali pembicaraan tentang sebuah kebaikan dan keburukan dalam koridor general truth. Setiap orang mempunyai opini subjektif masing-masing yang dapat digunakan untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Tidak ada kesalahan dalam menentukan keputusan asal masih dianggap baik, karena Maudy memandang jika keputusan itu masih tergolong dalam general truth and moral truth, masih mempunyai kadar kebenaran, dan jika keluar dari batasnya, maka juga bisa salah. “Many actions can be justified; but it doesn’t mean that they are right”. Ketika kita bersalah, jalan satu-satunya adalah bukan  menangis dan berputus asa, tapi melainkan tetap berdiri dan belajar dari pengalaman yang lalu. Kesalahan yang pernah kita perbuat pasti akan mengingatkan dan mengajarkan kita untuk melakukan perbaikan dan pengembangan diri secara permanen dalam diri kita, “They become constant reminders that we should always strive to improve ourselves, and they pave the way for better actions in the future”, “In order to love who you are, you cannot hate the experiences that shaped you – Andrea Sykstra”.

 Apapun yang kamu pikirkan kedepan, itulah kamu akan menjadi, apapun yang kamu rasakan, itulah yang akan kamu tarik, dan apapun yang kamu imajinasikan, itulah yang akan kamu ciptakan. Maudy dalam bagian ini juga menegaskan untuk memahami kodisi ketidakamanan yang terjadi pada diri kita. Ketidakamanan menurutnya adalah sebuah keadaan mudah diserang (vulnerability) oleh opini-opini manusia yang menyasar kepada kita. Lantas bagaimana menghindarinya? Yaitu dengan mengembangkan rasa keyakinan diri untuk tidak mudah diserang oleh apapun. “Small steps are better that none at all” termasuk quote yang menurut saya juga begitu mengakar di otak saya. Hal-hal kecil jika dikerjakan nanti juga akan menjadi besar, sesuatu yang berat jika kita mau melakukan dengan bertahap, pasti nanti akan menjadi ringan, “Big steps are only a combination of small little steps”. Yang paling penting adalah mau untuk melakukan sekarang dan tidak menundanya (not to procrastinate and delay). Jangan pernah menunda untuk melakukan sesuatu besok hari, jika kamu bisa melakukannya sekarang.” La tuakhir ‘amalaka ila al-ghad ma taqdiru an ta’malahu al-yauma. Begitu kira-kira kalimat mahfudhat yang sesuai.

“Go Offline” pembahasan yang menurut saya sangat relevan dengan konteks sekarang. Walaupun tetap menyadari bahwa teknologi dan platform media social yang bertebaran sangat penting dan berguna untuk keberlangsungan hidup, namun dia dengan tegas mengatakan bahwa di dalam aktivitas kita berinterkasi dengan dunia digital ada harga yang sangat mahal untuk kita bayar; waktu dan produktivitas kita. Maudy sangat menyayangkan berapa banyak waktu terbuang sia-sia hanya karena melihat dan men-scroll atas ke bawah updates and live actions people. Apakah go online itu salah? Tentu tidak, tapi sebagai generasi yang paham teknologi harusnya tau waktu dan tujuan yang hendak dicapai dari aktivitas tersebut. Bukan malah asyik dengan smartphone-nya masing-masing hingga mengabaikan hal lain yang mungkin lebih penting. “Only open up your social media account with purpose. Before tapping on that icon on your phone screen, ask yourself, “Do I have anything specific I want to look into? And if so, stick to that purpose and exit once you have achieved the task”. Aimless scrolling and absorbing updates rarely adds significant value. You could be saving the world with that time.

Teruslah membaca, kelak dunia akan membacamu! Semoga bermanfaat.

ArticleBook Review

Quarter Life Crisis: Waktunya Berkarya!

Judul buku       : Muda, Berdaya, KaryaRaya!

Penulis             : Mas Fahd Pahdepie

Penerbit          : Republika

Cetakan           : I, Maret 2019

Tebal Buku      : 336 halaman

 

Assalamualaikum

Hi, Readers!

Kali ini, iQra.id akan mengulas sebuah buku yang sangat inspiratif dari penerbit Republika, berjudul “Muda, Berdaya, KaryaRaya!” karya Mas Mas Fahd Pahdepie. Dari beberapa genre buku motivasi dan novel, iQra.id sangat suka dengan karya Mas Mas Fahd Pahdepie, mulai dari buku bergenre novel; seperti “Rumah Tangga”, “Perjalanan Rasa”, “HIjrah Bang Tato”, “Jodoh”, hingga buku bergenre motivasi seperti “Muda, Berdaya, KaryaRaya” yang baru terbit tahun 2019 ini. Secara umum, aku sangat tertarik dengan semua karya Mas Mas Fahd karena penulisannya tampak sederhana untuk dibaca, namun pemilihan diksi kata-katanya begitu tepat dan menyasar ke spektrum semantika dan stilistika hingga seolah-olah kata demi kata memiliki nyawa dan energi kehidupan, substansi gagasan yang disampaikan penuh dengan makna filosofis yang mampu mengaktifkan syaraf motorik dan syaraf intuitif. Begitu juga untuk buku ini, lagi-lagi Mas Fahd Pahdepie begitu pandai merangkai kata sedemikian logis dan estetik yang mengantarkan pembaca ke dimensi pembacaan dan pemaknaan yang begitu luar biasa. Mas Mas Fahd tidak sekedar menulis dengan bentuk makna tersurat, melainkan banyak menulis dengan daya makna tersirat. Walaupun penyikapan makna membutuhkan konsentrasi dan daya pemahaman yang lebih, kalimat-kalimat yang diakumulasikan dalam berbagai quote tertentu menjadikan buku ini asyik dan tidak mudah bosan untuk dibaca.

Buku ini menurutku sangat sesuai dengan kehidupan masa-masa remaja yang beranjak dewasa di era milineal saat ini. Betapa tidak, buku ini menyoroti fenomena-fenomena yang kerap dilalui oleh manusia ketika masuk usia dewasa (sekitar usia 20-30 tahun). Fenomena “Quarter life crisis” atau krisis perempat usia merupakan krisis kehidupan yang sering melanda kaum generasi muda karena tidakadanya kepercayaan dan keyakinan diri untuk bersikap persisten terhadap cita-cita dan impian. Fenomena tersebut oleh Mas Mas Fahd dianggap sangat berbahaya dan berdampak serius bagi kalangan muda.

Usia muda adalah usia emas, usia penuh dengan kejayaan pikiran, hati, dan tindakan, usia dengan segala daya dan upaya untuk menciptakan ide, membentangkan peta tujuan, merencanakan petualangan, menentukan cita-cita, dan mewujudkannya menjadi nyata. Namun, realita yang terjadi, kebanyakan mereka mengalami problematika krisis perempat usia. Mereka tidak merencanakan cita-cita, impian, dan tujuan dengan rute yang jelas. Indikator yang kerap kita jumpai antara lain; seperti saat dimana mereka lulus kuliah, masuk ke dunia kerja, dihadapkan pada pertanyaan seputar pernikahan, rumah tangga, atau hal lain yang mempertanyakan kemapanan. Saat seorang remaja dipaksa menjadi lebih dewasa dan masuk ke dunia yang sesungguhnya. Gejala umunya mereka sering merasa cemas, takut, bingung, tersesat, bahkan terasing. Mereka seakan tidak lagi memiliki daya imajinasi yang tinggi, semangat yang membara, dan persistensi hati yang kuat. Dampaknya, mereka di usia mudanya cenderung bermalas-malasan, mudah menyerah, dan tidak resisten dengan kehidupan. Mengutip perkataan seorang profesor ahli ilmu Filsafat, Rocky Gerung, mereka itulah yang tidak punya daya fiksional yang tinggi, daya fiksional yang hakikatnya mampu mengaktifkan dan membangkitkan kepercayaan diri, keyakinan hati, dan rasionalitas pikiran.

Dari fenomena tersebut, buku ini hadir untuk menjawab tesis probelmatika yang menggejala di kelompok generasi muda milineal. Secara ringkas, buku ini adalah tentang anak muda yang berdaya dan mampu menghasilkan uang dengan sejumlah karya. Bisa dikatakan buku ini berisi kompilasi cerita perjalanan Mas Mas Fahd Pahdepie sejak usia dimana masih menjadi anak sekolahan hingga menjadi writerpreneur hebat seperti sekarang. Sejak seorang Mas Fahd yang menjadi siswa sekolah swasta biasa di kota Bandung, menjadi anak yang tidak beraturan, anak yang tidak akademis, hingga Mas Fahd yang berprestasi, pandai menulis, perancang ide, dan seorang pemimpi yang sukses. Mas Fahd bercerita tentang bagaimana mengembara dengan tujuan dan cita-cita yang istimewa, bagaimana membentuk perjalanan yang menuntut kita untuk memiliki daya tahan yang baik, rasa ingin tahu yang tinggi, dan keteguhan hati untuk menuntaskan semua langkah hingga sampai di tujuan.

Dari segi stuktural materi, buku ini terdiri dari sepuluh bagian utama dan dibagi menjadi beberapa bab kecil. Setiap bab terdapat kutipan-kutipan yang disarikan dari penggumpalan kaimat, penerungan pikiran, dan pencerahan hati. Dalam pembahasan buku ini, iQra.id akan mendeskripsikan bagian-bagian yang menarik dan penting untuk dipahami dan direnungkan dengan seksama. Bagian 1: “Taruh Hatimu di Puncak Gunung” berbicara tentang sebuah keyakinan hati untuk menentukan arah dan langkah, kebermanfaatan untuk orang lain, upaya menginspirasi dengan mimpi-mimpi istimewa. Ada satu kutipan dalam bab ini yang menurutku sangat berarti dan mempunyai daya persuasif yang tinggi. Mas Fahd menulis “Tentang impian, selalu ada jarak di antara ‘siapa diri kita sekarang’ dan ‘siapa diri kita nanti’. Sebagian menangisi jarak itu untuk kemudian merasa kalah dan menyerah, sebagian lagi tetap tersenyum dan berusaha mengalahkan jarak itu dengan sikap pantang menyerah. Jarak itu bernama tantangan”.

Bagian 2: “Mulai dari Akhir!”. Ada beberapa pemaknaan kalimat yang menarik di bagian ini. Start from ending. Memulai sesuatu dari akhir. Mas Fahd dalam bagian ini berbicara tentang aktivitas bermimpi dan sebuah impian. Bermimpi menurutnya adalah membayangkan sebuah kondisi yang kita inginkan, sementara memiliki impian adalah tentang membentangkan peta, menciptakan rute, dan menjalani semua usaha untuk sampai ke sebuah tujuan yang kita bayangkan itu. Baginya, menjadi seorang pengusaha harus membuatnya belajar mengenai apa yang disebut Dan Lok 4S. S pertama tentang ‘survival’. Masa di mana kita harus hidup berjuang di antara ‘hidup’ atau ‘mati’, S kedua tentang ‘security’. Situasi di mana kita sudah aman dan ingin menata hal yang lebih baik untuk keamanan jangka panjang, S ketiga tentang ‘success’. Setelah melampaui rasa aman kita biasanya sudah bisa memiliki sejumlah akses dan fasilitas untuk bersenang-senang. Misalnya ketika mau membeli sesuatu, bukan lagi soal fungsi belaka, tapi juga selera dan gaya, S keempat tentang significance’. Saat kita mencapai S yang keempat ini, hidup bukan lagi persoalan mementingkan diri dan keluarga. Tetapi tentang memberi dan berbagi sebanyak mungkin kepada orang lain. Berhentinya Mas Fahd sebagai PNS terpilih, bukan karena tidak pandai bersyukur atau yang lain, melainkan ia lebih memilih untuk menjadi pengusaha karena ia ingin sampai di S yang keempat tadi. Berupaya untuk menjadi manusia yang berguna bagi banyak orang, bisa menolong sebanyak mungkin orang, punya amal jariyah dengan memberdayakan sebanyak mungkin orang. Begitulah alasan kuat yang mendasari Mas Fahd, seolah ia tak pernah berhenti bekerja, membuat apa saja, karena ‘ending’ yang ia harapkan adalah S yang keempat itu. Sebagaimana Maudy, Mas Fahd dalam bagian ini juga sangat persisten dengan persoalan mindset, ia menegaskan bahwa satu hal yang membedakan kita dengan orang lain bukanlah kecerdasan, skill, atau bahkan keberuntungan, melainkan mindset. Bagaimana kita merancang jalan, membangun rute untuk mencapai semuanya.

Bagian 3: “Teruslah bergerak” menyoal tentang sikap persistensi terhadap apa yang kita yakini. Tidak banyak yang diuraikan untuk bagian ini. Yang jelas, ada satu energi positif yang menurut iQra.id perlu diingat, yaitu tidak ada kata menyerah, selalu ada dinamisasi kehidupan, sebagaimana kutipan yang kerap kita dengar “al-Harakah fiha Barakah”. Dalam setiap pergerakan yang kita upayakan, terdapat sesuatu hikmah dan keberkahan yang tak terduga. Dalam setiap pergerakan juga terdapat doa yang luar biasa. Tidak ada yang tau kapan doa kita terkabul, tapi yakinlah pasti ada doa terbaik yang Allah kabulkan untuk kita. “Kadang kita harus jatuh secara luar biasa, untuk bangkit kembali secara luar biasa”.

Bagian 4: “Hargai proses!” diawali dengan kutipan “Kadang kita ragu mencoba hal baru, kita enggan keluar dari zona nyaman, padahal di seberang segala yang kita khawatirkan bahkan takutkan selalu ada ilmu dan hikmah yang bisa kita temukan. Semua yang memberi kita makna, warna, dan rasa akan memperkaya hati dan pikiran kita”. Di bagian ini, ada satu bab yang sangat menginspirasi dan memberikan prespektif baru tentang waktu. Kali ini, Mas Mas Fahd menamainya ‘Extra Miles’. Apa itu? Langkah tambahan. Dia memandang bahwa hal yang membedakan kualitas hidup seseorang dengan orang lain bukan berapa lama ia hidup, atau berapa jauh ia berjalan, melainkan langkah tambahan yang ia tempuh. Extra mile ini diasosisikan dengan definisi waktu mati dan waktu hidup dalam prespektif baru. Secara filosofis, Mas Fahd mendefinisikan waktu mati adalah jarum jam yang berputar, memanjat dari detik ke detik, barisan angka dalam kalender, juga tahun-tahun yang menggugurkan musim. Waktu mati yang dimiliki seseorang bisa jadi sama dengan orang lain. Ia mempunyai durasi waktu yang sama, hitungan detik, menit, jam, hari, bulan, hingga tahun yang sama, akan tetapi yang membedakan adalah waktu hidup mereka, waktu di mana ia menjalani setiap detik dalam hidup, mengisi dan memaknai setiap detak perputaran waktunya hingga tidak ada yang tersia-siakan. Bagaiaman ia selalu bersikap siaga dan produktif. Waktu di dimana ia mengerjakan sesuatu di saat orang lain malas, ia menciptakan sesuatu di saat orang lain tidur, ia merancang sesuatu di saat orang lain bersenang-senang. Berapa jarak yang sudah kau tempuh? Jawab dengan waktu hidupmu!

Bagian 5: “Perhatikan sekeliling!”. Ada satu bab yang menurut iQra.id memiliki kekuatan makna yang luar biasa, yaitu tentang ‘ilmu Santri’. “Jika hidup adalah sebuah lomba lari, setiap orang berhak menjadi juaranya. Namun, anak orang kaya dan anak orang miskin memulai perlombaan dari garis start yang berbeda, dengan sepatu yang berbeda, dengan persediaan makanan-minuman-bantuan dan persiapan yang berbeda”. Mas Fahd menjelaskan bahwa menjadi santri itu anugerah, yang memberinya banyak pengalaman dan ilmu yang berharga. Dengan menjadi santri ia bukan hanya belajar ilmu agama belaka, tapi lebih dari itu, santri adalah mereka yang hidup dan belajar setiap hari mengalahkan dirinya sendiri, melawan semua keterbatasan, menerobos segala rintangan, menjelang semua kemungkinan, dan keluar dari kotak kemustahilan, agar hidup bisa dilanjutkan untuk diri sendiri dan lebih jauh bermanfaat bagi orang lain. Santri adalah individu yang kreatif.

Bagian 6: “jangan Ragu Berbuat baik!” berbicara tentang cita-cita yang luar biasa. Yaitu tentang The Power of Giving. “Saat kita menolong orang lain, di situ saya selali yakin sesungguhnya kita sedang menolong diri kita sendiri”. Kira-kira kutipan hadis yang tepat adalah “Allahu fi ‘aun al-‘Abdi ma da ma al-‘Abdu fi ‘Auni Akhihi”, barangsiapa yang menolong saudaranya, maka ia akan ditolong oleh Allah SWT. Mas Mas Fahd menambahkan bahwa “di saat kita mendapat pertolongan, hitung dan ingatlah semuanya. Namun, saat kita menolong orang lain, lupakan segala ingatan dan kalkulasin tentangnya. Sesederhana itu prinsipnya. Anggaplah kita melakukan investasi, cinta yang ditanam akan tumbuh menjadi apa-apa saja yang menghidupkan, mengalirkan lebih banyak dan keberkahan, bukan?”  Dalam bab ‘hidup untuk membantu sebanyak orang’, Mas Mas Fahd juga menganjurkan kita untuk selalu membantu sebanyak mungkin orang dengan cara apapun. “Tidak harus menunggu kaya, tidak harus menunggu setelah menjadi ini dan itu. Menurutnya untuk membantu orang kita bisa memulainya dengan menawarkan cara pandang yang segar, mengajak orang untuk mengalami dimensi yang lebih tinggi, atau memberinya sedikit suntikan semangat dan pelajaran yang tak menggurui apalagi menghakimi”. Sekecil apapun kebaikan yang kita berikan kepada orang lain, pasti akan memberikan feedback yang baik pula untuk kita, The beautiful attracts beautiful. Misalnya dengan memberinya motivasi hidup, semangat belajar, membaca, menulis, menyumbang ide, gagasan, dan lain sebagainya.

Bagian 7: “Bekerjalah untuk Mereka yang Kaucinta!”. Bab ini, Mas Fahd lebih bercerita tentang sosok dibalik dinamika jatuh-bangunnya selama menjadi writerpreneur. Waktu di saat Mas Mas Fahd yang hidup hanya dengan rumah sederhana, perabot yang seadanya, namun di balik itu ada sosok istri bernama Rizqa yang begitu mencintainya. Selalu mendukung dan menyemangatinya tatkala dirundung badai masalah, gesekan pekerjaan, dan lain-lain. Di sini pula diceritakan bagaimana Mas Mas Fahd membangung komunikasi yang harmonis dengan keluarga, mengatur waktu dengan baik, hingga menjadi suami yang penuh tanggung jawab.

Bagian 8: “Merangkul yang dekat, Menjangkau yang jauh” berkisah tentang interaksi, hubungan, percakapan, pemahaman akan kebahagiaan dalam sebuah keluarga. Keluarga adalah miniatur komplesitas kehidupan sosial. Di saat kita bisa berkomunkasi dengan keluarga dengan baik, maka di situ pula kita bisa berinterkasi dengan lingkungan sekitar kita. Bagaimana kita berhubungan dengan ayah, ibu, anak, istri atau suami, maka di sana juga tercemin sikap yang akan kita berikan pada masyarakat di lingkungan sosial kita. Jika kita berusaha untuk mewujudkan keluarga yang baik maka kita juga akan mempunyai kapasitas dan kapabilitas untuk menghadapi problem sosial yang lebih rumit. Menurutnya, setidaknya ada lima prinsip mendasar yang perlu kita miliki sebelum menjalani kehidupan sosial di mana pun. Pertama, cinta, kasih sayang, dan hormat. Kedua, ihwal berbagi perang. Ketiga, keluarga mengajari kita tentang ‘kemungkinan baru’. Keempat, dialog. Kelima, keluarga mengajari kita memilah hal yang publik dan hal yang privat. Yang tak kalah menarik, dalam bagian ada satu bab yang mengajarkan sebuah makna yang terdalam, yaitu tentang ‘pesan di balik jangan lupa shalat’. Shalat yang yang tak boleh dilupakan oleh seorang manusia ternyata menjelma menjadi karakter dalam dirinya, sebagaimana kata itu terbentuk dari tiga huruf: SHAD, LAM, dan TA (marbuthah). Jadilah individu yang memiliki SHAD: shidqul qouli, seseorang yang selalu benar ucapannya. Jadilah pribadi yang senantiasa memiliki LAM dalam setiap nafas hidupnya: layyinul qolbi. Dan jadilah manusia yang senantiasa berusaha memegang prinsip TA dalam dirinya: tarqul ma’asyi, yang menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan tercela.

Bagian 9: “Belajarlah pada Siapa saja!” berbicara tentang sebuah penghormatan dan sikap menghargai kepada siapa saja yang telah mengajari kita, memberikan ilmu dan pengalamannya untuk kita. Dalam bagian ini, Mas Mas Fahd menyebutkan sosok guru yang pernah mengajari banyak hal, memberinya kesempatan, rasa percaya, tanggung jawab dan kemudian menjadi parner kerjanya, yaitu Denny J.A. Tidak hanya itu, dengan apik, Mas Mas Fahd menceritakan kembali sekilas novel “Hijrah Bang tato” yang membahas tentang kisah perjalanan tranformasi Bang Tato. Seorang yang dulu menjadi preman jalanan, pria yang penuh dengan tato di sekujur tubuhnya, semenjak proses hijrahnya, sekarang ia menjadi manusia yang baik, mampu mengemban amanah, tanggung jawab yang luar biasa. Dipertemukan dengan wanita cantik, sholehah, putri ustadz ternama bernama Nurmah. Hari-harinya terlihat indah, teratur, dan bahkan religious hasil dari hijrah. Secara ekonomi, Bang Tato sudah jauh lebih baik. Bahkan Nurmah istrinya membangung TPQ yang diberi nama al-Hijrah yang santrinya sudah hamper 80 orang. Bang Tato sendiri kerap diundang ke berbagai forum pengajian, seminar, untuk berbagi kisah hijrahnya yang menginspirasi banyak orang.

Bagian 10: “Jangan Kaya Sendirian!”. Poin penutup yang inspiratif. “Mungkin aku tak ingin kaya, aku tak ingin punya harta yang berlebihan. Aku hanya ingin punya yang cukup saja. Cukup untuk mengatakan pada orang-orang yang arogan bahwa mereka tak cukup kaya. Aku kira itu cukup adil”. Mas Mas Fahd bercerita tentang sebuah impian untuk berkarya. Pada satu titik, ia dihadapkan pada sebuah keputusan hidup untuk mengundurkan diri dari posisi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan memilih focus untuk berkarya sambil berbisnis. Ia memilih untuk mendirikan inspirasi.co, sebuah platform media sosial yang memfasilitasi orang-orang untuk berkarya, berkolaborasi, bahkan bisa dihargai karena karya-karyanya dan orang bisa menjadi ‘kaya’ karena mereka berkarya. Kaya di sini diartikan bukan lagi monovalen hanya berkonotasi ‘uang’ atau ‘harta’, melainkan bergeneralisasi menjadi makna kemerdakaan. Orang bisa merdeka dalam berkarya adalah bentuk kekayaan tersendiri. Kaya itu berupa aset, di mana seseorang memiliki segalanya untuk melakukan apa saja. Untuk mewujudkan semua itu, yang mereka butuhkan adalah ‘mindset kaya’. Orang kaya akan berkarya dengan merdeka. Di sana mereka bebas membuat apa saja asal membuat mereka bahagia. “Kadang-kadang hidup adalah tentang menyusun dan menemukan makna dari cerita-cerita yang dilairkan oleh serangkaian peristiwa kebetulan”.

Buku yang sangat menginspirasi, memberikan asupan energi, membangkitkan rasa dan nurani hati, melesatkan semangat diri, bahkan membuka pemahaman-pemahaman terkini. Semua manusia diciptakan untuk berdinamisasi, bersosialisasi, dan berproduksi. Menciptakan ide, merancang peta tujuan, dan menentukan usaha dengan penuh kebahagiaan. Apalagi seorang yang masih berusia muda, rasanya tidak pantas jika harus menunda untuk bekerja, apapun. Sekarang, waktunya untuk berkarya!