ArticleFIlm Review

Mr. Crack: Romantisme dan Optimisme dalam Film “Habibie dan Ainun” dan “Rudy Habibie (Habibi & Ainun 2)”

Science without religion is blind, and religion without science is lame” – Albert Einstein. Semakin tinggi ilmu yang dimiliki seseorang, justru ia semakin dekat dengan Tuhan dan agama yang diyakininya. Kalimat Itulah yang kira-kira pantas menggambarkan sosok figur kharismatik, Eyang B.J Bacharuddin Yusuf Habibie.

 

  Beberapa tahun lalu, Indonesia diwarnai dengan hadirnya dua film yang begitu insipiratif dan mengesankan. Dua film biopik yang berkisah tentang perjuangan dan pengorbanan seorang putra terbaik bangsa sekaligus tokoh nasional, Eyang Bacharuddin Yusuf Habibie yang sangat gigih dan militan. Perjalanannya menjadi figur, insipirator, pahlawan nasional, dan pakar teknologi, begitu dinamis dan demikian luar biasa dalam membangun Indonesia berkemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Film pertama berjudul “Habibie dan Ainun 1” yang disutradarai oleh Faozan Rizal dirilis dan resmi memenuhi bioskop tanah air pada 20 Desember 2012 dan film yang kedua berjudul “Rudy Habibie (Habibie & Ainun 2)” dirilis dan menjadi perhatian di berbagai pusat sinema Indonesia pada 30 Juni 2016 dengan disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Kedua film yang diproduksi oleh MD Pictures ini disambut dengan sangat baik oleh masyarakat Indonesia, khususnya para pecinta film dan penikmat karya sastra visual. Kehadiran kedua film epik ini mampu menarik antusiasme jutaan penonton untuk menyaksikannya di bioskop terdekat bersama teman, kerabat, dan keluarga. Tak sedikit orang juga mengapresiasi dan merespon positif atas rilisnya film kebangsaan yang penuh dengan nilai-nilai nasionalisme ini.

“Habibie Ainun 1” adalah film pertama yang mengangkat kisah perjalanan kehidupan Eyang Habibie dengan berbagai problematika yang begitu kompleks. Film yang diangkat dari memoar yang ditulis oleh Eyang Habibie mengenai kisah hidupnya bersama mendiang istrinya, Ibu Hasri Ainun Besari dalam buku Habibie dan Ainun. Film ini secara umum bercerita tentang perjalanan awal pertemuan dengan Ibu Hasri Ainun Besari, dinamika perjalanan saat menempuh pendidikan di Jerman, pergolakan konflik yang terjadi ketika Eyang Habibie kembali ke Indoensia dan diangkat menjadi Menteri Riset dan Teknologi, menjadi wakil presiden, hingga menjadi presiden menggantikan Bapak Soeharto pada era orde baru, serta menjadi orang yang paling tegar atas meninggalnya istri tercinta sebab kanker ovarium stadium lanjut. Film ini juga menyuguhkan perjuangan kisah cinta yang sangat romantis bersama istri, Ibu Hasri Ainun Besari yang begitu setia menemani beliau dalam suka ataupun duka, mendukung dan menjadi parter hidup saat Eyang menuntut ilmu di Aachen, Jerman Barat hingga akhirnya kembali ke Indonesia menjadi presiden Republik Indonesia yang ke-3. Tak hanya itu, film ini juga menghadirkan sebuah perjuangan dan optimisme seorang akademisi dalam menggapai mimpi dan cita-cita mulia dan menjadi tokoh inspirator dunia yang berpengaruh.

Kisah romantisme dalam film “Habibie Ainun” digambarkan begitu dramatik dan menyentuh hati. Dengan memilih Reza Mahardian dan Bunga Citra Lestari sebagai pemeran utama, film ini mampu membawa hati jutaan penonton untuk ikut dalam penyelaman rasa emosional-intuitif yang mendalam. Bagaimana Eyang Habibie dihadirkan dengan segenap cinta yang hikiki untuk Ibu Ainun dan mampu menjaganya sampai akhir hidupnya. Demikian sebaliknya, bagaimana Ainun Besari dihadirkan dengan rasa kasih dan sayang untuk menemai dan merawat Eyang Habibie tatkala sakit dan dilanda banyak masalah.

Beberapa peristiwa romantik yang tergambar dalam film kisah cinta Eyang Habibie dan Ibu Ainun, antara lain: Pertama, Sama-sama dilahirkan menjadi anak keempat dari delapan bersaudara. Eyang Bacharuddin Yusuf Habibie adalah seorang anak lelaki dari empat bersaudara yang lahir pada 25 Juni 1936 di Parepare, Sulawesi Selatan, dari pasangan suami istri yang sangat harmonis dan terpandang. Ayahnya bernama Ali Abdul Djalil Habibie dan ibunya bernama R.A Tuti Marini Puspowardojo. Baik ayah atau ibunya bukan kelahiran Sulawesi Selatan. Ayanya, Abdul Djalil Habibie lahir pada 17 Agustus 1908 di Gorontalo dan R.A Tuti Marini Puspowardojo lahir pada 10 November 1911 di Yogyakarta. Ibu Ainun Besari adalah putri keempat dari delapan bersaudara Bapak Mohammad Besari dan Sudarmi yang dilahirkan di Semarang pada 11 Agustus 1937.

Kedua, sejak kecil Eyang dan Ibu Ainun sudah saling kenal dan rumah mereka berdekatan selama di Bandung. Waktu itu, Eyang dan Ibu Ainun saat bersekolah di SLTP bandung, letak sekolah mereka bersebelahan, bahkan ketika di SLTA, mereka satu sekolah. Tapi, Eyang selalu satu kelas lebih tinggi daripada Ibu Ainun. Sejak saat itu juga, para guru di sekolahannya kerap berkelakar menjodoh-jodohkan Eyang dan Ibu Ainun.

Ketiga, peristiwa romantisme sejarah yang selalu terkenang tentang lahirnya benih cinta antara Eyang dan Ibu Ainun. Sebagaimana yang Ibu Ainun tulis dalam buku Setengah Abad B.J Habibie, Ibu Ainun mengakui bahwa beliau adalah seorang perempuan yang tidak pernah menaruh perhatian kepada lelaki. Beliau dengan seumur gadis itu kalaupun punya perhatian kepada lelaki biasanya lebih tertarik kepada lelaki yang jauh lebih dewasa. Namun, seketika itu ada peristiwa yang menyentak. Ibu Ainun waktu kecil sangat gemar berenang, sehingga kulitnya hitam. Pada waktu jam istirahat, Eyang Habibie dan sejumlah temannya lewat di depan Ibu Ainun dan berkata “Eh, kamu kok sekarang hitam dan gemuk?. Dari situlah kemudian ada getar rasa yang tidak biasa di hati. Peristiwa itu pula yang kemudian memunculkan istilah uangkapan legendaris “Si Hitam Gula Jawa”.

Keempat, cendekiawan dan cerdikiawan yang sama-sama dibesarkan oleh keluarga yang mengutamakan pendidikan hingga keduanya berhasil meraih prestasi dengan predikat yang sangat memuaskan. Sejak kecil Eyang tumbuh dengan kecerdasan dan semangat tinggi di bidang teknologi dan ilmu pengetahuan, khususnya Fisika. Beliau mengenyam pendidikan tinggi pertama di jurusan Teknik Mesin, Institut Teknologi Bandung (ITB) dan melanjutkan ke Rhenisch Wesfalische Tehnische Hochscule (RWTH) – Jerman pada 1955 dan meraih gelar insiyur di jenjang S-1 pada tahun 1960. Dengan dibiayai oleh ibunya, R.A. Tuti Marini Puspowardoyo, Habibie muda menghabiskan 10 tahun untuk menyelesaikan studi S-1 hingga S-3 di Aachen-Jerman.  Sedangkan Ibu Ainun telah berhasil menamatkan studinya di Jurusan Kedokteran, Universitas Indonesia pada tahun 1961. Semenjak masing-masing mengenyam pendidikan tinggi yang berbeda, Eyang berkuliah di Jerman dan Ibu Ainun di Universitas Indonesia, mereka terhalang jarak dan tidak pernah bisa bertemu. Namun, di tahun 1960-1961, Eyang dan Ibu Ainun setelah sekian tahun dipertemukan kembali di rumah orangtua Ibu Ainun Besari saat kakaknya, Fanny Habibie mengajaknya untuk berkunjung ke rumah Ibu Ainun di jalan Ranggamalela, Bandung. Seketika itu, Eyang Habibie terkejut dengan perosan Ibu Ainun yang begitu cantik dan bersahaja. Akhirnya Eyang Habibie jatuh cinta pada pandangan pertama dan berkata “Kamu telah berubah dari ‘Gula Jawa menjadi Gula Pasir, Ainun’. Dari sanalah kemudian terjadi penikahan yang begitu membahagiakan. Proses pengenalan lebih lanjut hingga ke pernikahan sangat singkat diceritakan oleh temannya sebagai suatu perencanaan yang gemilang. “Perencanaan bagi Eyang sangat penting karena berhubugan dengan waktu. Eyang sangat memegang prinsip untuk tidak membuang-buang waktu. Maka dari itu, sejak saat menjadi mahasiswa, Eyang begitu keras untuk mengejarkan sesuatu dan tidak banyak untuk bersantai”.

Kelima, romantisme beliau juga terekam saat Eyang dan Ibu Ainun pernah bersama-sama berjalan mengelilingi kota bandung dengan menggunakan becak yang memakai tutup tirai di atasnya. Di atas becak, Eyang Habibie dan Bu Ainun saling bercerita mesra tentang visi dan impian-impian mereka bersama. Saat yang sama Eyang melamar Ibu Ainun dan mengajaknya tinggal bersama-sama di Jerman.

Selain peristiwa romantik yang mewarnai kehidupan Eyang B.J Habibie, juga terdapat nilai optimisme yang selalu hadir dalam problematika kehidupan Eyang selama menuntut ilmu di Jerman. Bagaimana seorang inspirator dunia bersikap militan dan resistan dalam menghadapai setiap masalah dan hambatan yang hadir di tengah-tengah proses pengembaraan keilmuwan. Sebagai akademisi yang mempunyai semangat tinggi dan jiwa pantang menyerah, Eyang selalu berusaha untuk mewujudkan impian dan cita-citanya menjadi ilmuan yang aktif dan kontributif dalam pengembangan ilmu pengetahuan di dunia, khsusunya di bidang desain dan konstruksi pesawat terbang. Dalam film secara jelas menggambarkan sebuah kesungguhan dan konsistensi Eyang dalam menuntaskan segala problematika kehidupan yang melingkupinya, seperti scene yang menggambarkan situasi dan kondisi yang sangat lemah dan terpuruk  saat Ibu Ainun hamil anak pertama. Ibu Ainun berkata pada Eyang kalau beliau merasa sudah tidak mampu untuk melanjutkan hidup di Jerman dan beliau ingin untuk segera pulang ke Indonesia. Namun, karena kesetiaan, kesungguhan, dan optimisme yang luar biasa, Eyang berhasil meyakinkan Ibunda Ainun untuk tetap tegar dan kuat menjalani kehidupan di Jerman bersama-sama. Hingga akhirnya anak pertama mereka, Mas Ilham Akbar Habibie, lahir dan juga disekolahkan di Jerman.

Kisah perjuangan dan pengorbanan Eyang Habibie juga terekam dalam dinamika perjalanannya saat menjadi menteri teknologi dan riset. Sepulang dari Jerman dengan membawa predikat sangat baik di bidang teknologi industri pesawat terbang, Eyang atas jerih-payahnya berhasil membangun industri PT. Dirgantara Indonesia. Eyang pada saat yang sama juga berhasil menciptakan dan menerbangkan pesawat pertamanya “Gatotkaca” dengan sangat membanggakan. Namun, setelah Eyang diangkat secara resmi menjadi presiden ke-3 Republik Indonesia, berbagai ujian datang bertubi-tubi. Karena waktu itu adalah masa transisi presiden Soeharto dan terjadi pergolakan ekonomi yang tidak stabil, sistem pemerintahan pemerintahan yang memburuk, dan seterusnya, usaha Eyang yang selama ini dicita-citakan dalam membangun PT. Dirgantara Indonesia diberhentikan dan tidak boleh beroperasi. Di masa ini juga terjadi banyak ketidakadlian yang merajalela, suap-menyuap, dan korupsi. Pada waktu itu, Eyang juga sempat akan disogok oleh oknum yang mempunyai kepentingan-kepentingna tertentu, namun dengan tegas dan berprinsip Eyang menolak. Kekokohan sikap militansi dan kekujuran Eyang tidak diragukan lagi. Begitulah seorang Eyang Habibie yang begitu kuat dan optimis dalam menjalankan roda pemerintahan dengan baik dan jujur.

Film kedua “Rudy Habibie: Habibie dan Ainun 2” yang dirilis setelah film “Habibie dan Ainun” juga merepresentasikan nilai-nilai optimisme patriotik-filosofis yang begitu mendalam tentang seorang figur Eyang Habibie. Film ini merupakan prekuel dari Habibie & Ainun – yang diangkat dari novel semi-biografi Rudy: Kisah Masa Muda Sang Visioner karya Gina S. Noer. Film ini menurut penulis adalah film yang sengaja diproduksi untuk menambah kekuatan nilai perjuangan dan optimisme yang dilakukan salah seorang tokoh bapak teknologi dunia dalam upaya menguatkan eksistensi diri dan ideologi serta mewujudkannya ke dunia yang sesungguhnya. Selain itu, Eyang juga berusaha untuk menjadi seseorang yang secara total mengajarkan konsistensi atas rasa cinta dan kepedulian untuk negara Indonesia. Namun, menurut penulis film ini harusnya menjadi sekuel film pertama dari rangkaian film Eyang Habibie yang akan tayang. Karena film ini mengisahkan perjalanan Eyang ketika mengenyam pendidikan di Jerman dengan sungguh-sungguh.

Film ini diawali dengan sekuen Eyang yang sedang berkuliah di Jerman dengan menggunakan akses paspor hijau yang artinya dengan biaya mandiri dan tidak atas beasiswa pemerintah. Sedangkan teman-teman Eyang yang lain adalah mahasiswa ikatan dinas yang menggunakan beasiswa pemerintah untuk studi di Aachen, Jerman.  Walaupun menggunakan biaya sendiri dari Ibunya, Eyang dengan kecerdasannya mampu bersaing dan bahkan mengalahkan teman-teman yang kuliah dengan beasiswa. Hal ini menjadi fakta dan bukti bahwa capaian keberhasilan prestasi pendidikan tidak mutlak ditentukan dengan beasiswa pemerintah. Menurut penulis, kiranya beasiswa yang paling berharga dan membutuhkan pertanggungjawaban yang lebih besar adalah besiswa dari diri sendiri dan orangtua. Jika beasiswa pemerintah dituntut untuk menebusnya dengan kegiatan belajar yang sungguh-sungguh, maka bagi siapapun yang sekarang sedang belajar dengan beasiswa sendiri atau orangtua seharusnya lebih bangga dan bisa menunjukkan aktivitas belajar dengan serius dan sungguh-sungguh. Dengan biaya sendiri atau biaya orang tua, seseorang akan lebih bisa menghargai usaha dan perjuangan untuk belajar dan sekaligus mencari uang. Seseorang akan sangat merugi jika dengan mudah menyia-nyiakannya. Dari film Rudy Habibie ini kita diajarkan sebuah paradigma bahwa beasiswa pemerintah tidaklah cara mutlak agar bisa bersekolah dan berprestasi, tapi ada cara lain yang juga terhormat dan berharga bagi setiap orang.

Semangat optimisme yang lain juga tergambar dari upaya Eyang untuk giat dan tekun belajar tentang teori-teori konstruksi pesawat terbang. Eyang sangat fokus untuk mengasah kemampuannya dalam menganalisa masalah pesawat yang sering diberikan dosennya. Berkat ketekunannya dalam membaca kritis referensi, akhirnya Eyang mampu memecahkan masalah dan merumuskan sebuah teori keretakan pesawat. Kemudian teori yang Eyang rumuskan menjadikan beliau terkenal seantero dunia dengan sebutan Mr. Crack. Eyang termasuk orang pertama di dunia yang bisa merumuskan ilmu pengetahuan bagaimana menghitung crack propagation on random sampai ke atom-atomnya. “Crack propagation yang teramat penting dan serbasulit temua B.J Habibie cukup menggemberikan hati. Inilah dasar reputasi seorang B.J Habibie dalam lingkungan dunia ilmu dirgantara. Ketertakan pesawat juga merupakan sesuatu yang sangat dicemaskan oleh perekayasa struktural dan keperilakuakn penyebaran retak sungguh sulit diperhitungkan” – Prof. Dr. Ing. B. Lasca, Ahli Aerodinamika. Selain itu, dunia juga telah mendeklarasikan bahwa rumusan-rumusan Eyang Habibie telah dibukukan pada sejumlah jilid Advisory Group for Aerospace Research and Development (AGARD), buku yang berisi prinsip-prinsip ilmu pengetahuan yang dibutuhkan dalam mendesain pesawat terbang standar North Atlantic Treaty Organization (NATO), Organisasi Pertahanan Atlantik Utara. Misalnya pada Agardorgraph No. 257, “Practical Applications of Fracture Mechanics”, Nato 1980. Di sini akan ditemukan apa yang mereka katakana Factor of Habibie, Predictions of Habibie, dan Method of Habibie.

Selain itu, optimisme-patriotik juga dihadirkan ketika Eyang terpilih menjadi ketua Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PPI) di Jerman. Organisasi ini cukup menjadi konflik yang teramat kompleks bagi Eyang dalam upayanya membangun Indonesia. Dalam sekuen ini, Eyang dipotret untuk menjadi manusia yang tangguh, tegar, sabar, kuat, dan konsisten dalam memberikan ide seminar pembangunan industri dirgantara yang begitu brilian untuk Indonesia. Berbagai penolakan yang cukup kuat terjadi dari kalangan anggota PPI dan sikap fanatisme terhadap negara yang menimbulkan sikap anti demokratis dan perpecahan di kalangan mahasiswa Indonesia. Panca adalah ketua Kelompok yang sangat menentang Eyang. Berbagai perlakukan yang tidak adil telah menguasai dinamika perjalanan PPI waktu itu. Hambatan-hambatan yang lain seperti, ancaman tidakdiberikannya dana bantuan untuk seminar pembangunan dari negara, banyaknya tekanan yang datang dari pejabat negara di Jerman, termasuk duta besar RI di Jerman, oknum pemerintah yang sengaja dihasut oleh kelompok Panca agar menentang dan memberhentikan seminar pembangunan, dan seterusnya. Namun, upaya-upaya tersebut mampu Eyang hadapi dengan sejumlah perencanaan dan keyakinan yang sangat  kuat. Bagi Eyang, pembangunan industri dirgantara adalah sebuah gagasan cerdas yang sangat tepat dan gemilang untuk membangun dan memajukan Indonesia menuju negara superior dalam bidang teknologi di masa depan. Seminar pembangunan industri dirgantara adalah harga mati bagi Eyang.

Perlu diketahui, selain semangat optimisme yang kuat, Eyang adalah seorang mahasiswa religus yang sangat taat dengan Tuhan dan ajaran agamanya. Di sela-sela kesibukannya dalam belajar, Eyang selalu tepat waktu dalam menjalankan ibadah. Walaupun, di RWTH, Aachen, Jerman, tidak ada mushala atau masjid, Eyang tetap berusaha menjadi manusia yang tunduk  dengan menjalankan shalat di bawah tangga universitas. Bahkan karena ketidakadaan tempat ibadah, Eyang sempat menggagas sebuah ide untuk membangun tempat Ibadah untuk orang Islam yang sedang belajar di RWTH. Dalam film juga diceritakan, saking patuhnya, karena tidak ada masjid, Eyang menjadikan geraja sebagai tempat ibadah shalatnya. Yang penting menurut Eyang adalah niat yang ikhlas. Di manapun tempatnya, Allah akan memahami kondisi tersebut.

Di tengah-tengah perjalanannya menyusun agenda seminar pembangunan industri penerbangan, Eyang dipertemukan oleh seorang perempuan dengan paras yang cantik asal Polandia, Ilona Ianovska. Ilona adalah perempuan yang selalu ada untuk Eyang waktu itu. Perempuan yang selalu mendukung gagasan Eyang, khususnya gagasan seminar pembangunan industri dirgantara. Seiring berjalannya waktu, akhirnya Eyang Habibie sempat menaruh rasa cinta dengan Ilona dan begitupun sebaliknya. Dengan semangat juang dan dukungan dari Ilona tersebut, akhirnya Eyang berhasil meyakinkan semua orang di PPI Jerman akan ide seminar pembangunan industri penerbangan untuk Indonesia. Semua menerima dan mendukung ide tersebut.

Pada saat yang sama Eyang dihadapkan dengan pilihan yang begitu berat; memutuskan untuk mencintai Ilona dan memulai kehidupan yang baru di Jerman atau memutuskan lebih mencintai Indonesia dan kembali untuk Indonesia. Pada suatu ketika, Eyang kemudian menulis sumpah untuk Indonesia ketika terbaring di rumah sakit sebab menderita penyakit TBC Tulang. Sumpahnya adalah saksi sekaligus bukti bahwa Eyang sangat mencintai tanah airnya, Indonesia. Eyang rela melakukan apa saja untuk membangun Indonesia lebih baik, sekalipun jiwa dan raga taruhannya.

SUMPAHKU!!

Terlentang!!!

Djatuh! Perih! Kesal!

Ibu Pertiwi

Engkau Pegangan

Dalam Perdjalanan

Djanji pusaka dan sakti

Tanah tumpah darahku

Makmur dan sutji

 

Di tengah kebingungan Eyang, beliau kemudian ingat pesan ayanya; “Jadilah mata air yang jernih, maka kamu bisa menjadikan disekelilingmu bersih, dan jika kamu menjadi mata air yang keruh, maka disekelilingmu juga akan menjadi ikut kotor”. Di saat yang sama pula, Eyang meminta pertimbangan kepada romo Yusuf dan berkata “Kamu lebih mementingkan apa yang kamu butuhkan atau yang orang lain butuh dari kamu?”. Semenjak dari meminta nasehat itu, Eyang Habibie seketika memutuskan untuk pulang dan menjadi mata air yang sangat jernih untuk bangsa Indonesia. Kehadiran Eyang adalah anugerah luar biasa yang diberikan oleh Allah untuk Indonesia. Inilah bukti ketulusan cinta yang sangat tulus dari Eyang. Walaupun Eyang waktu itu mencintai Ilona, tapi dengan keyakinan hati Eyang mentransformasikan cintanya menjadi cinta-patriotik yang mengunggah jiwa bangsa Indonesia hingga saat ini. Keadaan yang mengharukan, saat di mana Ilona kemudian berkata kepada Eyang, faktanya: kamu mencintai Indonesia, masalahnya: kamu mencintai Indonesia, dan solusinya: kamu mencintai Indonesia.

“Nanti akan lahir, tidak hanya 100 Habibie, akan tetapi 1000 Habibie. Tanpa Habibie apa yang telah saya rintis selama ini harus berkembang dan berjalan terus. Agar kita memiliki nilai tambah atau ‘added value’. Dengan demikian, Indonesia akan dapat memasuki era teknologi tinggi dan industri penerbangan menyongsong abad ke-21 yang akan datang”B.J Habibie

Selamat jalan putra terbaik bangsa. Kami bersaksi bahwa Eyang Habibie adalah guru dan inspirator kami, tidak hanya guru dalam semangat menuntut ilmu pengetahuan, tapi juga guru yang mengajarkan kami akan kejernihan moral dan ketaatan dengan agama. 25 Juni 1936 hingga 11 September 2019, 83 tahun lamanya adalah waktu yang sangat berharga dengan hadirnya Eyang untuk kami semua, menjadi mutiara cahaya intelektual dan spiritual yang akan selalu menerangi kehidupan dunia, khususnya bangsa Indonesia. Selemat bertemu dengan cinta sejati, Eyang.

Artikel ini ditulis berdasarkan film terbaik tahun 2012 dan 2016 yang menurut penulis tidak akan pernah redup dalam mewarnai dan menghiasi industri perfilman Indonesia. Film bersejarah yang akan selalu dikenang oleh bangsa Indonesia. Sebentar lagi, film Habibie & Ainun 3 juga akan dijadwalkan tayang pada 19 Desember 2019 dan menjadi tontonan yang begitu istimewa di penghujung tahun. Jika pada film sebelumnya berfokus pada masa muda Eyang Habibie, maka pada film ini cerita lebih diarahkan kepada masa muda dari Ibu Hasri Ainun Besari. Aktris Maudy Ayunda dipilih untuk memerankan sosok Ainun muda, sedangkan aktor Jefri Nichol didapuk berperan sebagai BJ Habibie muda.

Untuk mempertajam data, penulis menggunakan dua buku rujukan; Mr. Crack dari Parepare, dari Ilmuwan ke Negarawan sampai Minandito karya A. Makmur Makka dan Kisah, Perjuangan & Inspirasi B.J Habibie karya Weda S. Atma untuk mendeskripsikan informasi secara detail dan akurat.

M. Firdaus Imaduddin – 

ArticleFIlm Review

Cinta dan Nilai Humanistik dalam Film Ayat-Ayat Cinta 2

Tahun lalu, tepatnya bulan Desember tahun 2017, Indonesia kembali menyaksikan suguhan film yang begitu dramatik dan mengesankan. Film berjudul “Ayat-Ayat Cinta 2” yang diproduksi oleh MD Pictures dan disutradarai oleh Guntur Souharjanto dengan mengambil jalan cerita dari national best seller “Ayat-Ayat Cinta 2” karya novelis hebat Indonesia, Habiburrahman El-Syirazi, mampu menarik jutaan penonton di seluruh Indonesia. Sejak mulai dirilisnya film ini di layar lebar tanggal 21 Desember 2017, para warga Indonesia sangat antusias untuk menyaksikan film ini bersama rekan, teman, sahabat, dan keluarga tercinta mereka di bioskop terdekat.

Tidak heran jika film AAC 2 begitu diserbu oleh penonton, karena sejak munculnya film “Ayat-Ayat 1” pada sekitar tahun 2008-an lalu yang menceritakan lika-liku kisah asmara Fahri dengan Aisyah yang begitu menyentuh hati, film yang digarap khsusus sebagai lanjutan dari film “Ayat-Ayat 1” ini hadir dengan daya penasaran yang lebih menguat. Seperti dengan cerita yang ditulis dalam novelnya, beragam nuansa hati dan nilai yang begitu luar biasa dihadirkan dalam film ini sehingga hal ini menjadikan film AAC 2 begitu lengkap dan berbeda dengan film AAC 1 yang agaknya hanya fokus pada penceritaan cinta antara dua orang manusia yang tidak sengaja bertemu di negara Mesir ketika dalam masa pengembaraan intelektual. Dari gambaran novelnya, film ini semacam menjadi karya yang sangat inspiratif dan inklusif bagi penikmat sastra khususnya nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Menurut saya, film AAC 2 ini sangat menarik untuk direnungkan karena film ini pada hakikatnya mampu memberikan paradigma yang komprehensif tentang perspektif-perspektif yang mungkin selama ini dianggap samar bahkan tidak benar. Tidak hanya itu, film ini juga menyuguhkan beragama kisah dan nilai yang sangat universal dan relevan dengan problematika kehidupan pada zaman sekarang. Banyak kisah-kisah yang ditampilkan, romantisme, asmara, kasih sayang, kebahagiaan, dan kesedihan semuanya turut menyentuh relung hati yang paling dalam.  Nilai-nilai universal tentang kemanusiaan, perilaku religius, budi pekerti luhur semuanya juga dipotret begitu mengesankan. Tidak ada rasisme, diskriminasi, dan budaya streotip.

Penggambaran aspek romantisme tertangkap dalam representasi konsep cinta yang begitu agung dan mulia. Cinta dalam film ini dapat dikatakan sebagai perasaan yang bermuara pada aspek positif dalam sebuah tingkat kehidupan. Memang secara umum, cinta dipandang sebagai sesuatu yang asbtrak dan tidak dapat dirasakan secara jelas, namun melalui film ini saya dapat merasakan bahwa cinta itu dapat memberikan kita sinergitas pengaruh yang saling menguntungkan. Hal itu tergambar sangat jelas ketika Fahri memberikan cintanya yang begitu agung untuk Aisyah. Walaupun Aisyah telah lama menghilang sejak kepergiannya ke Palestina, Fahri tetap konsisten untuk menunggu Aisyah dan selalu mencintai Aisyah hingga kapanpun.

Perlu diketahui, cinta Fahri ke Aisyah secara sadar dan fisikal pada dasarnya merupakan hal yang sangat sulit untuk dilakukan, namun penulis melihat bahwa cinta itu tidak murni cinta fisik yang diberikan seseorang kepada seseorang, tapi itu adalah cinta yang dikemas dengan untaian-untain do’a yang mengiringinya. Do’a yang tulus untuk seseorang yang terkasih. Keyakinan do’a atas cinta itu begitu kuat bagi Fahri, hingga ia secara tidak sadar dipertemukan dengan seorang perempuan yang bernama Sabina. Sabina diceritakan sebagai tokoh perempuan yang berwajah buruk dan pekerjaan sehari-harinya adalah mengemis di pelataran masjid pusat kota Edinburg. Namun, karena cinta (do’a) nya Fahri ke Aisyah, akhirnya ia menolong perempuan itu kemudian mengajaknya ke rumah.

Dari cuplikan itu, kita tahu betapa Allah Maha Mendengar do’a orang-orang yang tulus. Allah mempertemukan Fahri dengan kekeasihnya dahulu, Aisyah yang menyamar menjadi perempuan bernama Sabina. Walaupun, kisah asmara Fahri selanjutnya menikah dengan Hulya (sepupunya Aisyah), namun dalam scene terakhir dan juga dalam cerita novel terakhir Fahri tetap menemukan cintanya yang sesungguhnya yaitu dengan Aisyah.

Di samping kisah cinta romantisnya, cinta universal atas kasih sayang terhadap sesama manusia juga dihadirkan dalam film ini. Cinta ini sangat jelas tergambar dalam aktivitas sehari-hari Fahri yang sangat menyayangi tetangga-tetangga rumahnya walaupun tidak dalam satu agama yang sama, seperti nenek Catrina yang bergama Yahudi dan Nona Janet, Kheira, Jason, dan Brenda yang beragama Kristen. Fahri seorang muslim yang taat sangat mencintai dan menyayangi mereka tanpa syarat apapun. Inilah universalitas cinta yang sesungguhnya. Fahri mampu menabur dan menyebarkan cinta-cinta universal yang terikat dalam norma-norma kebaikan. Fahri tidak membeda-bedakan bahkan tidak membenci golongan yang tidak berada dalam satu jalur bersamanya.

Begitu banyak bukti cinta yang diberikan kepada mereka, seperti; pertama, Fahri telah menolong nenek Catrian dengan membeli rumah nenek Catrina dari aktivitas jual-beli rumah yang dilakukan oleh anak tirinya, Baruch, kemudian Fahri menghadiahkan rumah itu kepada nenek Catrina, kedua, Fahri telah menolong Kheira dengan menyekolahkannya ke sekolah privat biola ternama di Jerman hingga Kheira menjadi pemain biola terkenal di Jerman, ketiga, Fahri menolong Jason dengan memberikan bantuan material untuk terus melatih kemampuan sepak bolanya, dan keempat, Fahri menolong Brenda ketika ia terlantar di depan rumahnya sesuai pesta dengan teman-temannya. Semua kejadian-kejadian itu tidak akan terjadi jika tidak ada rasa cinta dan kasih sayang terhadap sesama. Jika sifat acuh tak acuh, iri hati, dan dengki telah menguasai diri, maka tidak akan pernah ada raca cinta itu selamanya, bahkan yang ada hanyalah permusuhan. “Yang berhak dicintai adalah cinta itu sendiri, dan yang berhak dimusuhi adalah permusuhan itu sendiri”. Kebaikan memang pantas untuk dicintai dan dipertahankan, dan kejahatan memang pantas untuk dibenci dan dimusnakan.

Selain kisah cinta di atas, film ini juga sangat sarat dengan nilai-nilai hikmah yang luar biasa. Nilai-niai yang mengantarkan penonton kepada sebuah pemahaman yang menyeluruh, inklusif, dan tepat sasaran. Khususunya nilai-nilai humanistik-transendental yang tergambar dalam perilaku tokoh yang sangat religus. Nilai-nilai humanistik yang terepresentasi dari hasil pemahaman agama yang inklusif begitu tampak dan dapat di rasakan. Tokoh Fahri berhasil membuktikan nilai-nilai humanistik yang disampaikan melalui ajaran agamanya, Islam. Islam dalam kaitanya dengan nilai humanistik memang begitu menghormati dan sangat menghargai perbedaan yang ada di sekitarnya. Nilai-nilai humanistik memang seakan sudah menjadi norma-norma yang diatur dalam agama tersebut. Dapat dikatakan bahwa nilai-nilai humanistik adalah bagian dari apa yang diajarkan oleh Islam. Orang yang mengaku bergama Islam, maka ia wajib memahami nilai-nilai itu dan juga harus mampu mengimplementasikannya dalam aksi yang nyata. Nilai-nilai itu meliputi, sikap ramah, sopan santun, disiplin, suka menolong, memuliakan tetangga, menyayangi sesama manusia, dan lain sebagainya.

Pemahaman terhadap nilai-nilai humanistik-transendental inilah yang kemudian menjadi penawar dan antioksidan atas pelbagai penyakit yang menyerang kehidupan zaman ini. Kebanyakan orang-orang yang membunuh hak-hak kemanusiaan adalah mereka orang yang tidak mengerti sama sekali dengan nilai kemanusiaan dan nilai spiritual. Mencuri, merampok, membunuh, memperkosa, dan lain sebagainya, itu semua tidakan yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai humanistik-transendental. Mereka telah dikuasai oleh nafsu dan tunduk dengan arahan-arahan makhluk yang tidak bertanggung jawab.

Dalam segmen ini pula, sebagaimana yang saya katakan di awal, bahwa film AAC 2 ini mampu menyuguhkan sebuah klarifikasi atas sebuah paradigma tentang agama Islam yang selama ini diklaim buruk dan anti kelompok. Film ini menjelaskan secara gamblang bahwa paradigma itu tidak benar. Islam adalah agama rahmat bagi seluruh alam. Agama penuh kasih sayang dan penuh kedamaian. Agama yang menghormati dan mengedepankan nilai-nilai humanisme-transedental. Tidak memihak golongan tertentu atas sebuah kebenaran. Jadi, jika ada golongan yang masih memenggal hak-hak kemanusiaan sesorang, maka mereka adalah orang-orang yang hanya mengatasnamakan dirinya Islam dan tidak ada sangkut pautnya dengan Islam. [] Wallahu a’lam bi as-Shawab