Opinion

Wajar Romantis, Kan Kamu Baru Saja Menikah!

WAJAR ROMANTIS, KAN KAMU BARU SAJA MENIKAH!

“Kan memang baru saja menikah, wajarlah kalau masih panggil ‘sayang’ ke istri”, “Kan kemarin baru nikah, ya wajarlah kalau masih perhatian”, “Baru satu bulan menikah, wajarlah masih suap-suap-an”, “Masih lima tahun menikah, wajarlah kalau masih romantis” dan ungkapan-ungkapan lain yang mungkin seringkali kita dengar dari orang-orang sekitar, bahkan dari orang-orang terdekat kita. Sebuah persepsi umum yang kemudian mengkristal menjadi sebuah pandangan hidup dan parahnya terus menerus dianggap sebagai kebanaran umum bagi mayoritas masyarakat. Namun, apakah pandangan tersebut patut dipertahankan? Izinkan saya menyampaikan pendapat saya mengenai hal ini.

 

Pernikahan pada dasarnya adalah sebuah ikatan suci bagi dua sepasang manusia, laki-laki dan perempuan yang berkomitmen untuk membangun keluarga yang bahagia (sakinah) dengan penuh cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah). Dari terminologi ini, kita dapat mengetahui bahwa ada beberapa unsur yang menjadikan pernikahan itu bukan sesuatu yang mudah untuk dilaksanakan. Banyak sekali yang seharusnya perlu dipersiapkan hingga akhirnya siap untuk menikah.

 

Pertama, pernikahan adalah Ikatan suci, dari segi semantika frasa ini kita harus memahami bahwa pernikahan bukan hubungan antroposentris-biologis yang bertujuan untuk memuaskan naluri manusia saja, tapi lebih besar daripada itu; ada sebuah komitmen teosentris untuk menyempurnakan nilai-nilai ketakwaan kepada Allah. Tidak hanya semata-mata menjalin hubungan dengan manusia, tetapi juga ada niat baik untuk semakin dekat dengan Allah. Tidak hanya ingin membangun ikatan insani yang paripurna, tetapi juga ingin menggenapkan setengah dari agama ilahi yang mulia. Ini bukan perkara mudah, perlu adanya niat dan usaha yang kuat.

 

Kedua, pernikahan adalah komitmen untuk membangun dan membina keluarga yang bahagia (sakinah) dengan penuh cinta (mawaddah) dan kasih-sayang (rahmah). Sebagaimana yang telah difirmankan dalam Al-Quran, surat Ar-Rum: 21: “Wa min ayatihi an khalaqa lakum azwaja litaskunu ilaiha wa ja’ala bainakum mawaddah wa rahmah”, dari tanda-tanda kekuasan-Nya adalah Allah menciptakan kalian berpasangan (laki-laki dan perempuan) agar kalian tenang dan bahagia, oleh sebab itu, Allah kemudian menganugerahkan kalian cinta dan kasih sayang.

 

Menurut saya, banyak orang terjebak dan belum benar-benar tuntas memahami ayat ini secara menyeluruh sehingga menyebabkan adanya kesalahpahaman persepsi dalam memahami beberapa terma yang ada dalam ayat ini. Barangkali ini yang kemudian menjadi titik persoalannya.

Dalam ayat ini, ada terma sakinah, mawaddah, dan rahmah yang muncul bersamaan. Secara literal, ketiga terma tersebut jika diterjemahkan mengandung arti yang relatif hampir sama; menuju pada perasaan senang, bahagia, cinta, dan kasih sayang. Namun, di sini perlu dipahami bahwa sebenarnya ketiga terma tersebut jika diinterpretasi lebih mendalam akan memberikan kita sebuah konsep yang utuh dan saling berkolerasi.

 

Saya memahami kata “litaskunu” yang kemudian diambil kata isim failnya, sakinah adalah sebuah tujuan utama yang selayaknya dicapai oleh semua pasangan. Sakinah sendiri adalah upaya untuk mencapai kebahagiaan, ketenangan, ketentraman, kesejukan, kedamaian hati dan pikiran. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut tentunya tidak mudah dan banyak sekali ujian dan masalah yang menerpa. Di sinilah Allah menganugerahkan mereka mawaddah dan rahmah. Jika ditelaah lebih dalam, mawaddah dan rahmah sama sekali berbeda. Masing-masing mempunyai filosofi makna yang mendalam.

 

Mawaddah, dalam tafsir al-Qurtubi, disebut juga mahabbah. Secara etimologis mengandung arti ‘cinta’. Ada juga ulama yang mengartikan al-mawaddah hiya al-jima’, yaitu cinta dalam arti biologis (pemenuhan naluri seksual manusia). Dalam pengertiannya secara terminologis, saya ingin mendefinisikan cinta adalah perasaan senang yang hanya timbul akibat adanya stimulus-stimulus naluriah yang secara nyata tampak sebagai keindahan semata.

 

Cinta lebih identik dengan hal-hal yang indah saja, hal-hal yang menyenangkan, hal-hal yang mungkin dapat membuat manusia terlena di dalamnya; seperti fisik manusia yang tampan, cantik, ganteng atau kekayaan yang melimpah; punya rumah mewah, mobil bagus, dan seterusnya. Aspek-aspek inilah yang kemudian sangat berpotensi membuat manusia jatuh cinta kepadanya. Jika boleh mengilustrasikan, cinta dalam konteks pernikahan ini menduduki tingkat pertama dalam kehidupan berumah tangga. Cinta hanya memandang kelebihan suami atau istri dan tidak akan pernah menerima kekurangannya. Ini yang menjadi sifat buruk dari suami-istri yang hanya memiliki cinta. Cinta akan terus menerus menuntut kesempurnaan seseorang dari aspek apa saja; fisik, status pendidikan, ekonomi, keluarga, dan lainnya. Oleh karena itu, Allah melengkapinya dengan rahmah.

 

Rahmah, dalam satu pendapat disebut athafa qalbuhu yang berarti lembut hatinya, dalam pendapat yang lain disebut ar-rahmah hiya as-syafaqah yang berarti memiliki rasa kasihan, simpati-empati dan kemurahan hati. Secara terminologis, berbeda dengan cinta, saya mendefinisikan kasih-sayang adalah sebuah perasaan senang yang timbul akibat adanya kebesaran dan ketulusan hati yang dimiliki oleh setiap manusia. Dalam konteks pernikahan, maka rahmah menduduki tingkat yang lebih tinggi dari cinta. Rahmah (kasih-sayang) akan selalu menghadirkan sebuah perasaan senang yang mau menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing pasangannya. Pasangan suami-istri akan selalu saling menyayangi tidak hanya karena ketampanan suami atau kecantikan istri semata, melainkan juga sebaliknya, selalu setia kepada suami tidak hanya karena suami punya harta yang melimpah, tapi juga saat dalam kondisi terpuruk sekalipun, dan selalu saling memberikan semangat dan motivasi saat ada satu yang merasa lemah dan putus asa.

 

Jika kita sama-sama mempunyai pemahaman seperti ini, saya kira tidak akan ada lagi persepsi yang mengatakan bahwa pernikahan hanya akan indah dan bahagia di masa-masa awal saja, tidak akan ada lagi suami yang memanggil sayang istrinya begitu sebaliknya hanya dalam waktu dua bulan hingga satu tahun, tidak ada akan ada lagi ramomantisme yang hanya bertahan hingga sampai 5-10 tahun pernikahan, tidak akan ada kebersamaan yang hanya sampai 20 tahun pernikahan, tidak ada ceritanya suami selingkuh dan istri marah-marah, dan mungkin tidak akan ada lagi perceraian di dunia ini. Semuanya akan bertahan lebih lama, sampai tutup usia.

 

Boleh jadi pasangan suami istri yang romantismenya hanya bertahan satu, dua, tiga bulan atau bahkan satu tahun atau lima tahun itu belum mencapai tingkatan rahmah yang dimaksud. Maka dari itu, doa yang selalu dipanjatkan saat ada pernikahan terjadi adalah semoga menjadi keluarga yang bahagia (sakinah) dengan diliputi cinta (mawaddah) dan kasih-sayang (rahmah). Cinta dan kasih-sayang inilah yang begitu penting untuk menjadi fondasi dalam rangka mencapai ketakwaan dan kebahagiaan yang hakiki hingga akhir nanti. Cinta dan kasih-sayang akan membuat kesetiaan, romantisme, dan kebersamaan akan terus ada tanpa ada batas waktu, selamanya. Semoga kita semua termasuk dari pasangan-pasangan yang senantiasa dianugerahi cinta dan kasih-sayang. Wallahu a’lam bi as-shawwab.