[ September 7, 2019 by admin 0 Comments ]

Institusi Islam Modern: Praktek Dehumanisasi Struktural dan Oritarianisme Hierarki Superior  

Institusi pendidikan adalah pusat peradaban moral dan intelektual. Ia dibangun untuk memainkan peran yang cukup penting dalam proses tranformasi ilmu pengetahuan dan etika secara masif dan terstuktur. Di antara institusi pendidikan yang dianggap paling berpengaruh adalah ma’had. Ma’had didaulat sebagai institusi pendidikan Islam modern yang menjadi pelopor dalam mewujudkan ruang pendidikan yang berkualitas dan berkarakter. Tidak hanya mengutamakan aspek kualitas kognitif-intelektual yang berdaya saing global dan modern, namun juga menghadirkan dimensi karakter moral-spiritual yang cukup besar dalam pencapaian suatu pendidikan. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, fungsi-fungsi fundamental tersebut mengalami kerapuhan. Bahkan sudah tidak menjadi bagian yang menginternalisasi dalam pribadi individu. Data di lapangan mengemukakan bahwa masih terdapat elemen institusi pendidikan Islam yang justru bersikap amoral dan bertindak otoriter. Bagaimana jika hal itu kemudian terus terjadi?

Perlu dipahami, sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional bahwa pendidikan secara umum adalah upaya mengembangkan potensi anak-didik untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, dan keterampilan, Ma’had juga memiliki sinergitas tujuan sebagaimana dijelaskan oleh Mastuhu (dalam Damopolii, 2011, hlm. 83) untuk menciptakan dan mengembangkan kepribadian Muslim yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan, berakhlak mulia dan berbudi pekerti luhur, bermanfaat bagi masyarakat, dan mampu berdiri sendiri.

Dari tujuan tersebut, sudah jelas bahwa paling tidak terdapat tiga fungsi fundamental ma’had, yaitu; fungsi spiritual-transedental, fungsi moral-etis, dan fungsi sosial-humanis. Fungsi spiritual-transedental untuk membentuk kontruksi ketaatan dan sikap tunduk pada normativitas agama transedental dengan senantiasa menjalankan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Fungsi ini menjadi fungsi pokok yang paling utama dalam sebuah ma’had karena untuk menjaga konektivitas santri dengan Tuhannya. Spiritualitas ini diajarkan dengan praktek-praktek kegamaan yang sedemikian lengkap, mulai dari tingkat ajaran dasar, seperti shalat, membaca sumber agama Islam; Qur’an dan Hadis, tuntunan membayar zakat, shadaqah, dan lain sebagainya, hingga tingkat ajaran yang paling tinggi, seperti Riyadhah, Zuhud, dan Tirakat.

Fungsi moral-etis dikonstruksi untuk berupaya memberikan pengetahuan-pengetahuan akhlak dan budi pekerti secara teoritis melalui pengkajian kitab-kitab turos yang secara khusus membahas tentang akhlak dan etika seperti, Nashaihul ‘Ibad, Ihya’ Ulumiddin, dan Ta’lim wa Al-Muta’allim. Secara praktis, para santri kemudian secara langsung mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari ke dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana etika berinteraksi dengan pengasuh, ustadz, pengurus, dan teman-teman yang lain, bagaimana para santri bertutur kata dengan tamu, para asisten ma’had, dan bagaimana para santri menjaga kebersihan lingkungan ma’had. Integralitas kedua aspek teoritis dan praktis, diharapkan mampu membentengi para santri dari perilaku-perilaku yang kurang baik, etika yang kurang sopan, dan terhindar dari aktivitas dehumanisme etika.

Fungsi sosial-humanis mengajarkan sebuah kebijaksanaan akan kebajikan dalam berinteraksi dengan lingkungan. Bagaimana para santri dididik untuk mampu bersosialisasi dengan masyarakat tanpa menimbulkan adanya sikap acuh dan arogan. Terciptanya intuisi emosional yang tinggi antara santri dan masyarakat, adanya simpati dan empati, kepedulian, dan jiwa gotong royong. Ketika santri benar-benar sudah kembali ke masyakarat, diharapkan mampu mendengarkan apa yang menjadi kebutuhan masyakarat, berdialog dengan baik, bermusyawarah dengan rendah hati, dan saling mengapresiasi.

Fungsi manajemen dan keterampilan diri didesain untuk mengatur dan mengembangkan potensi di bidang non-akademik. Tidak dipungkiri, di era modern, jiwa seni, kreativitas dan manajemen sangat diperlukan untuk menunjang eksistensi Ma’had. Termasuk keterampilan untuk mendesain informasi dengan olahan warna dan tulisan yang estetik, mengoperasikan komputer, mengelola data secara digital, manajemen situs web, dan lain-lain. Dengan aspek-aspek tersebut Ma’had dengan mudah mengenalkan profile ke publik, menarik perhatian publik, hingga menkampanyekan pendidikan untuk Ma’had yang bersangkutan.

Sayangnya, berdasarkan fakta yang ditemukan, saat ini telah terjadi reduksionisasi fungsi dan tujuan Ma’had. Terutama fungsi dan tujuan Ma’had sebagai pioner dalam membentuk karakter dan kepribadian yang luhur. Fungsi moral-etis dan sosial-humanis seakan-akan punah dan meredup. Parahnya, ini terjadi di kalangan elit superior yang ada di kawasan Ma’had. Mereka menggangap diri mereka raja yang paling unggul dan akhirnya menguasai segalanya. Di samping itu, juga terjadi otoritarianisme superior yang ingin selalu menguasai kelas bawah dengan sistem yang tidak demokrasi.

Mari kita jelaskan. Di dalam ma’had telah terjadi penjajahan moral yang terstruktur. Banyak praktek penguasaan idealisme yang tidak bisa dibendung. Superior yang tidak bisa berperilaku layaknya manusia pilihan Tuhan. Tidak ada proses dialog yang responsif. Kalangan elit yang bersifat benar-benar arogan. Banyak narasi yang tidak berperikemanusiaan, dehumanisasi yang merajalela, kritisnya rasa simpati dan empati, dan hilangnya apresiasi aksi-rekasi. Jika melihat fungsi ma’had adalah sebagai penggerak moral dan etika, maka di sini terjadi disfungsi prinsip yang cukup serius. Apalagi eksistensi Ma’had yang berada di bawah nagungan institusi Islam yang sudah dikenal banyak orang. Gaung kehebatan dan citra baik institusi akan tercoreng. Lambat laut, kebocoran ini akan meluap ke permukaan dan akibatnya akan ada pengucilan dan distorsi hak-hak kemanusiaan.

Selain dehumanisasi yang mengakar, praktek pemerintahan yang otoriter juga terjadi. Ketidakadilan tumbuh subur, sikap dan tindakan yang sewenang-wenang, tertutupnya pintu aspirasi dan sistem yang tidak berlandaskan asas musyawarah. Ide dan gagasan pembangunan hanya menjadi mimpi belaka, tidak ada respon yang mendukung, bahkan akan musnah diterpa arogansi yang begitu kuat. Kenapa terjadi hal demikian? Bukankah itu pelan-pelan justru akan merusak institusi tersebut dari dalam? Sebagai contoh, dalam merumuskan sistem atau aturan, perlu adanya kontribusi ide dari rakyat yang dalam hal ini adalah para pengurus Ma’had. Perlu adanya musyawarah dengan pengurus, kerjasama yang baik, dan seterusnya. Walaupun kita tahu bahwa superior adalah pemegang regulasi tingkat dua setelah para pengasuh, namun seharusnya mereka tidak bekerja secara egaliter dan sewenang-wenang. Kemudian permasalahan tindakan pengurus, jika memang ditemui pengurus berbuat salah, maka penyelesaiannya tidak langsung dengan mengeluarkan justifikasi yang menggerus nilai-nilai etika; keluarnya narasi emosional, pernyataan yang mengekploitasi harga diri, dan seterusnya. Jika hal demikian tetap terjadi secara berkesinambungan tahun ke tahun, sudah bisa dipastikan institusi tersebut tidak akan bisa berjalan dengan jaminan mutu dan kualitas yang diinginkan. Tidak menutup kemungkinan juga akan terjadi kemalasan dalam bekerja, pengabdian yang tidak berjalan ikhlas, terjadi kemerosotan kualitas sumber daya manusia, terjadi kenakalan bahkan krimialisasi di jajaran pengurus, sistem kaderisasi yang tiap tahun menurun dan lain sebagainya.

Di samping itu yang perlu penulis soroti adalah terkait hilangnya apresiasi terhadap alumni yang pernah berkontribusi aktif dalam proses pendidikan di Ma’had. Perlu diketahui, alumni di mana saja mereka pernah mengenyam pendidikan merupakan aset emas yang harus dijaga dan dikawal betul setelah masa transisi pendidikan. Alumni mempunyai peran yang cukup besar dalam mengembangkan institusi. Betapa tidak, ketika sumber daya manusia yang ada dalam sebuah institusi terbatas, kekurangan di sana-sini, maka alumnilah yang akan menyempurnakan. Sejatinya alumni harus menjadi prioritas utama untuk berdialog mengisi kekurangan dan kekosongan yang sedang dikeluhkan oleh institusi. Ketika ma’had mengalami stagnasi yang berkepanjangan dalam hal pembelajaran misalnya, maka peran alumni di sini sangat dibutuhkan untuk menciptakan ide-ide baru, inovasi-inovasi yang lebih maju, dan seterusnya. Dari ide-ide inilah perlu adanya apresiasi yang responsif dari pihak dalam untuk menampung dan mempertimbangkan ide-ide tersebut. Namun, faktanya, ide-ide itu tidak pernah mendapatkan apresiasi yang memuaskan dari jajaran superior. Ide-ide dari alumni hanya dipandang sebelah mata bahkan diabaikan. Mereka menilai alumni sebagai orang lain yang tidak diakui eksistensinya sebagai kelompok yang pernah berjuang dan mengembangkan institusi pada masanya.

Semua paparan di atas menurut penulis sangat merugikan banyak pihak dan membuat proses pendidikan itu semakin kacau karena sudah tidak belandaskan fungsi dan tujuan utama pendidikan, khususunya pendidikan di institusi keislaman. Alih-alih, praktek-praktek dehumanisasi dan sistem otoriter akan pelan-pelan menghancurkan sebuah institusi. Apalagi di era modern ini, jika masalah yang dihadapi masih berkutat di aspek fundamental dan belum bergerak kearah yang lebih luas, maka sebuah institusi akan tertinggal jauh dan tidak akan bisa berkembang dengan signifikan. Sebuah institusi akan mengalami kemandekan, dan tidak bisa meraih visi dan misinya untuk menjadi institusi yang lebih berkualitas dalam bidang akademik dan maju dalam bidang teknologi. Apakah hal seperti itulah yang kita inginkan?

Realitas-realitas tersebut patut menjadi perhatian kita selaku akademisi dan pemerhati pendidikan yang berkemajuan. Penulis pribadi menginginkan adanya gerakan reaktualisasi fungsi dan tujuan Ma’had. Mengembalikan dan menyempurnakan nilai-nilai mulia yang dulu pernah menjadi landasan sistem pendidikan dalam sebuah institusi. Mengejawantahkan fungsi dan tujuan institusi Islam dengan penuh rahmat dan gotong royong. Menumpas celah-celah penjajahan moral, menghapus dehumanisasi struktural, dan mencabut otoritarianisme lembaga. Semua persoalan dikerjakan dengan semangat sinergisitas antar penanggung jawab dan pengurus. Mari kita gaungkan institusi Islam modern yang memiliki sumberdaya manusia yang dinamis, searah dengan perkembangan zaman dan berkemajuan dalam moral-spiritual dan IPTEK, untuk Indonesia yang laebih baik, sebagaimana apa yang telah tercantum dalam cita-cita pesantren pada peringatan Hari Santri Nasional pada tanggal 22 Oktober tahun 2016 “Dari Santri untuk Negeri, Dari Pesantren untuk Indonesia”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *